KETIK, PACITAN – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pacitan memastikan keluarga Widiono atau Nano, penyandang disabilitas asal Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan, tetap mendapatkan perhatian dan akses bantuan sosial.
Kepastian tersebut disampaikan setelah petugas melakukan kunjungan langsung sekaligus asesmen kondisi keluarga menyusul viralnya video yang menampilkan Nano di media sosial.
Kunjungan dilakukan pada Jumat, 6 November 2026, dengan melibatkan Pemerintah Desa Mentoro, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Puskesos Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT), serta pendamping rehabilitasi sosial.
Kepala Dinsos Pacitan, Heri Setijono, mengatakan kunjungan tersebut tidak hanya untuk mengklarifikasi persoalan video yang menuai beragam tanggapan warganet.
Petugas juga melakukan asesmen guna mengetahui kondisi fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi Nano beserta keluarganya.
Baca Juga:
Perda Retribusi Tiket Terusan Dua Pantai di Pacitan Masih Digodok, Target Berlaku 2027Dari hasil asesmen, keluarga Nano diketahui masuk kategori miskin atau desil 1.
Keluarga tersebut tidak memiliki pekerjaan tetap dan selama ini mengandalkan bantuan pemerintah serta uluran tangan tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Rumah yang ditempati keluarga tersebut merupakan rumah bantuan melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
Kondisi ekonomi keluarga juga dipengaruhi keadaan kedua orang tua Nano yang sedang sakit sehingga tidak dapat beraktivitas secara maksimal.
Baca Juga:
Sadap Pinus Jadi Andalan Hasil Hutan Bukan Kayu Pacitan, Target Produksi 169 Ton per Tahun"Tidak punya pekerjaan hanya mengandalkan bantuan dari tetangga dan bantuan pemerintah (PKH, BPNT, BPJS Kesehatan)," kata Heri saat dikonfirmasi Ketik.com, Jumat, 6 November 2026.
Heri menjelaskan, keluarga Nano telah menerima sejumlah bantuan sosial dari pemerintah.
Bantuan tersebut meliputi Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), serta jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan.
Selain Nano, tiga anak dalam keluarga tersebut juga tercatat sebagai penerima bantuan meskipun sudah memiliki kartu keluarga (KK) sendiri.
Ketiganya diketahui bekerja serabutan.
Dalam kunjungan tersebut, tim juga memastikan kondisi Nano.
Berdasarkan hasil asesmen, Nano dalam keadaan sehat dan saat ini tinggal bersama keluarganya di Desa Mentoro.
"Kemarin dan hari ini sudah selesai assesment ke lapangan. Info di medsos ternyata beda dengan kondisi di lapangan," ungkapnya.
Keluarga Tidak Merasa Dibully
Selain memeriksa kondisi keluarga, Dinsos Pacitan juga melakukan klarifikasi langsung mengenai video yang viral di media sosial.
Klarifikasi dilakukan kepada keluarga Nano dan pembuat konten yang mengunggah video tersebut.
Berdasarkan keterangan keluarga, mereka tidak merasa menjadi korban perundungan atau bullying.
Keluarga menganggap video tersebut sebagai candaan yang sudah biasa dilakukan di lingkungan keluarga maupun tetangga.
Keluarga juga menyampaikan bahwa pembuat konten selama ini kerap membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari, baik berupa bantuan materiil maupun dukungan lainnya.
Mereka mengaku tidak merasa dirugikan, tersinggung, ataupun terancam dengan adanya video tersebut.
Keluarga juga menyatakan tidak keberatan dan tidak mengajukan tuntutan terhadap pembuat konten.
Sementara itu, pembuat konten menjelaskan bahwa tidak ada niatan untuk merendahkan atau melakukan perundungan terhadap Nano.
Video tersebut dibuat dengan tujuan menggalang donasi guna membantu meringankan beban hidup keluarga penyandang disabilitas tersebut.
Selain itu, unsur candaan dalam video dimaksudkan agar konten menarik perhatian warganet sehingga pesan untuk membantu keluarga Nano dapat menjangkau lebih banyak orang.
Pembuat konten juga menyampaikan permohonan maaf atas kesalahpahaman yang terjadi dan respons negatif dari warganet setelah video tersebut beredar.
Pembuat Konten Bersedia Minta Maaf dan Hapus Video
Sebagai tindak lanjut atas polemik yang muncul, pembuat konten bersedia meminta maaf dan menghapus atau melakukan take down video yang telah diunggah di media sosial.
Pembuat konten juga berkomitmen lebih berhati-hati dalam membuat konten, khususnya yang melibatkan penyandang disabilitas.
Ke depan, ia menyatakan akan meminta izin terlebih dahulu kepada keluarga sebelum mengunggah konten serupa.
Dinsos Pacitan melalui kunjungan tersebut juga memberikan edukasi mengenai etika pembuatan konten yang memiliki perspektif disabilitas dan ramah terhadap penyandang disabilitas.
Langkah ini dilakukan agar pembuatan konten di media sosial tetap memperhatikan penghormatan terhadap hak dan martabat penyandang disabilitas, sekaligus mencegah munculnya kesalahpahaman maupun polemik serupa.
Dari hasil klarifikasi, keluarga dan pembuat konten disebut tetap memiliki hubungan baik dan saling membantu.
Kondisi Nano dan keluarganya juga dipastikan dalam keadaan aman.
Melalui asesmen tersebut, Dinsos Pacitan memperoleh gambaran mengenai kondisi sosial dan ekonomi keluarga Nano, termasuk bantuan sosial yang selama ini telah diterima.
"Keluarga tersebut masih membutuhkan perhatian mengingat tidak memiliki pekerjaan dan bergantung pada bantuan pemerintah maupun tetangga," lanjutnya menutup.(*)