KETIK, BOGOR – Banyak orang mengira semua nyamuk mengisap darah manusia. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Secara ilmiah, hanya nyamuk betina yang membutuhkan darah, sedangkan nyamuk jantan memperoleh makanannya dari nektar bunga dan cairan tumbuhan.

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Upik Kesumawati, menjelaskan bahwa darah bukanlah makanan utama nyamuk. Cairan tersebut hanya dibutuhkan oleh nyamuk betina untuk mendukung proses reproduksi.

"Darah yang dihisap nyamuk dibutuhkan untuk reproduksi, bukan sebagai makanan utama," jelasnya dalam IPB Podcast yang tayang di kanal YouTube IPB TV.

Menurut Prof Upik, protein yang terkandung dalam darah berperan penting dalam pematangan telur. Karena alasan itulah hanya nyamuk betina yang aktif mencari inang, termasuk manusia dan hewan, untuk diisap darahnya.

Sebaliknya, nyamuk jantan tidak memiliki kebutuhan biologis tersebut. Serangga ini memperoleh energi dari nektar bunga dan cairan tanaman sehingga tidak menggigit manusia.

Baca Juga:
Benarkah Nyamuk Bisa Menularkan HIV? Ini Fakta Ilmiah dan Mitos yang Perlu Diluruskan

Perbedaan perilaku tersebut juga menjelaskan mengapa nyamuk betina menjadi penyebar berbagai penyakit. Saat berpindah dari satu inang ke inang lain untuk mencari darah, nyamuk betina berpotensi membawa berbagai patogen penyebab penyakit.

 

Golongan Darah O Lebih Sering Menjadi Sasaran

Selain menjelaskan fungsi darah bagi nyamuk, Prof Upik juga mengungkapkan bahwa sejumlah penelitian menemukan nyamuk memiliki kecenderungan lebih tertarik kepada orang bergolongan darah O.

Baca Juga:
Benarkah Nyamuk Lebih Suka Menggigit Orang Bergolongan Darah O? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Penelitian yang dilakukan di Jepang pada 2004 menunjukkan individu dengan golongan darah O lebih sering digigit dibandingkan pemilik golongan darah lainnya. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh senyawa volatil, seperti karbon dioksida (CO₂) dan asam laktat, yang diproduksi tubuh sehingga lebih mudah dideteksi nyamuk.

"Orang yang bergolongan darah O mempunyai senyawa-senyawa volatil yang lebih banyak dibandingkan orang yang bergolongan darah A. Misalnya menghasilkan asam laktat atau karbon dioksida (CO2) lebih banyak, sehingga lebih mudah dideteksi oleh nyamuk," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa semua orang tetap dapat digigit nyamuk. Perbedaannya hanya terletak pada tingkat ketertarikan nyamuk terhadap individu tertentu.

"Siapa pun bisa dihisap darahnya, hanya saja ada kecenderungan golongan darah O lebih disukai," tambahnya.

Prof Upik juga meluruskan sejumlah mitos lain yang masih berkembang di masyarakat. Salah satunya mitos bahwa nyamuk dapat menularkan HIV/AIDS. Virus HIV tidak mampu berkembang di dalam tubuh nyamuk sehingga akan mati dalam waktu singkat setelah terisap bersama darah. Karena itu, gigitan nyamuk tidak menjadi media penularan HIV. (*)