KETIK, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi siswa, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran tentang pola makan sehat. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengusulkan agar edukasi gizi dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.
Melalui usulan tersebut, siswa diharapkan tidak sekadar menerima makanan bergizi, tetapi juga memahami manfaat berbagai jenis makanan bagi tubuh, mulai dari karbohidrat, sayuran, buah-buahan, vitamin, mineral, hingga protein dan kebutuhan hariannya.
“Jadi, bagaimana memasukkan MBG atau edukasi gizi ini menjadi salah satu bagian dari kurikulum yang ada di pendidikan kita. Sama seperti penjaskes, pendidikan jasmani dan kesehatan, kan dia olahraga dimasukkan ke dalam pelajaran. Jadi, ini ada pelajaran tentang gizi,” kata Sudaryono dalam video yang diunggah di Instagram.
Menurutnya, sekolah dapat menjadi tempat bagi anak-anak untuk mengenal pentingnya gizi seimbang sejak dini. Ia menilai, saat ini belum tersedia sarana yang memadai bagi siswa untuk mendapatkan pengetahuan tersebut secara terarah.
Selain memasukkan edukasi gizi ke dalam pembelajaran, Sudaryono juga mengusulkan waktu khusus bagi siswa untuk makan sekaligus mempelajari nutrisi. Untuk sekolah yang kegiatan belajarnya berlangsung hingga siang, ia mengusulkan alokasi waktu sekitar satu jam, misalnya pukul 12.00 hingga 13.00.
Baca Juga:
Sudaryono Siapkan Satgas Daerah Jadi Kapolda Kapolres MBG, Ini Tugasnya“Di dalamnya bisa kita lakukan prasmanan seperti ini, sehingga waktunya tidak, bukan hanya waktu istirahat, tapi dikasih waktu paling tidak satu jam, Pak Menko,” ujarnya.
Sementara itu, bagi siswa kelas 1 dan 2 sekolah dasar yang pulang pada pagi hari, MBG diusulkan diberikan sebelum mereka meninggalkan sekolah. Dengan begitu, anak-anak tetap dapat menikmati makanan bergizi sebelum pulang.
Gagasan tersebut muncul setelah BGN melakukan uji coba penyajian MBG menggunakan sistem prasmanan. Dalam skema ini, siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menambah porsi apabila masih merasa lapar setelah mendapatkan takaran awal.
“Yang kurang masih bisa nambah, kemudian tingkat kebersihan atau tingkat kehabisannya sangat bagus, ya, jadi waste-nya sangat kecil,” kata dia.
Baca Juga:
Genjot Ekonomi Lokal, BGN Gandeng 52.689 UMKM Pasok MBGSudaryono menyebut tingkat kepuasan terhadap sistem prasmanan dalam uji coba tersebut mencapai sekitar 4,56 dari skala 5. Selain itu, waktu antara makanan disiapkan dan disajikan relatif singkat, yakni sekitar dua jam, sehingga makanan dapat dinikmati dalam kondisi hangat dan segar.
Meski siswa diperbolehkan menambah makanan, takaran gizi tetap menjadi acuan dalam pembagian porsi. Tambahan makanan dapat diberikan setelah seluruh siswa memperoleh porsi awal sesuai ketentuan.
“Jadi tetap orangnya dikasih porsi yang sama, karena ada takaran gizinya ada, tapi begitu udah ditakar semua, biasanya ada spare, Pak. Nah itu boleh nambah, Pak,” kata Sudaryono.
Untuk mendukung pelaksanaannya, BGN turut mempertimbangkan pemanfaatan ruang kelas yang tidak terpakai sebagai tempat makan. Penyajian prasmanan juga tidak harus terpusat di satu lokasi karena makanan dapat dibawa ke masing-masing kelas agar distribusi lebih mudah.
Sudaryono mengaku telah membicarakan usulan edukasi gizi dan pengaturan waktu makan tersebut secara lisan dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Namun, usulan itu masih memerlukan pembahasan lebih lanjut, terutama terkait pengaturan waktu dan pelaksanaannya di sekolah.(*)