KETIK, JAKARTA – Bagi sebagian orang, Nomor Induk Pegawai (NIP) mungkin hanya sekadar deretan angka dalam administrasi kepegawaian. Namun, NIP 010000001 memiliki cerita istimewa lantaran pemiliknya merupakan PNS pertama di Indonesia.
Selain itu, nomor tersebut tercatat sebagai milik sosok besar dalam sejarah Indonesia, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Bukan hanya seorang raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX merupakan negarawan, pejuang kemerdekaan, Wakil Presiden Republik Indonesia kedua, sekaligus tokoh yang memiliki jasa besar dalam perjalanan bangsa.
Lahir dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun pada 12 April 1912 di Sompilan Ngasem, Yogyakarta, ia tumbuh sebagai putra mahkota yang dipersiapkan menjadi pemimpin. Sejak muda, ia memiliki wawasan luas karena sempat menempuh pendidikan di Universitas Leiden, Belanda, dengan mempelajari bidang indologi, hukum, dan sastra.
Meski lama berada di lingkungan pendidikan Barat, kecintaannya terhadap budaya dan tanah kelahirannya tidak pernah luntur. Hal itu tergambar jelas ketika ia dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada 18 Maret 1940.
Dalam pidato penobatannya, ia menyampaikan kalimat yang hingga kini menjadi simbol jati dirinya, "Setinggi-tingginya aku belajar ilmu Barat, aku adalah dan bagaimanapun juga tetap Jawa."
Baca Juga:
Jamasan Pusaka Kyai Turunsih, Simbol Pengayoman Keraton untuk SlemanKalimat tersebut menggambarkan sosok pemimpin yang mampu memadukan ilmu modern dengan nilai-nilai budaya Jawa.
Raja yang Melindungi Rakyat di Masa Sulit
Ketika Indonesia berada dalam masa pendudukan Jepang, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menunjukkan kepemimpinan yang penuh perhitungan.
Ia menggunakan strategi diplomasi untuk mengurangi penderitaan rakyat Yogyakarta akibat kebijakan kerja paksa atau romusha.
Baca Juga:
Hotel Murah Dalam Keraton Yogyakarta, Langganan Para Bule Backpacker, Bu Sud's House PilihannyaSalah satu langkah pentingnya adalah pembangunan Selokan Mataram sekitar tahun 1944. Proyek irigasi tersebut bukan hanya bertujuan meningkatkan pertanian, tetapi juga menjadi cara Sultan memberikan pekerjaan kepada rakyat agar terhindar dari pengiriman sebagai tenaga kerja paksa.
Dari Raja Menjadi Abdi Negara
Perjalanan pengabdian Sri Sultan Hamengkubuwono IX tidak berhenti sebagai pemimpin Keraton Yogyakarta. Ia kemudian menjadi bagian penting dalam pemerintahan Indonesia.
Negara mencatat namanya sebagai pemilik NIP 010000001, menjadikannya salah satu simbol awal dalam sejarah administrasi kepegawaian Indonesia. Kartu Pegawai Negeri Sipil (PNS) miliknya diterbitkan oleh Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) pada 1 Desember 1974.
Status tersebut menunjukkan bahwa seorang raja sekalipun memilih mengabdikan diri sebagai bagian dari negara dan rakyat Indonesia.
Sosok di Balik Kemajuan Gerakan Pramuka
Selain dikenal dalam pemerintahan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga memiliki peran besar dalam dunia kepanduan Indonesia.
Setelah Presiden Soekarno menginstruksikan penyatuan organisasi kepanduan pada 9 Maret 1961, Sultan dipercaya menjadi Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka pertama dan menjabat hingga 1974.
Di bawah kepemimpinannya, Gerakan Pramuka berkembang menjadi organisasi pendidikan karakter yang besar. Dedikasinya bahkan mendapat pengakuan internasional melalui penghargaan Bronze Wolf Award dari World Scout Bureau pada Juni 1974, penghargaan tertinggi dalam dunia kepanduan.
Untuk memperkuat kemandirian Gerakan Pramuka, ia juga rela melelang mobil Holden pribadinya pada 3 Juli 1974 dalam kegiatan Pencanangan Kampanye Usaha Dana.
Wakil Presiden yang Dikenang Sepanjang Masa
Puncak perjalanan politik Sri Sultan Hamengkubuwono IX terjadi ketika ia dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia kedua pada 24 Maret 1973.
Sebagai wakil kepala negara, ia dikenal sebagai sosok sederhana, berintegritas, dan memiliki kepedulian besar terhadap rakyat.
Jejak pengabdiannya juga terlihat ketika pada akhir 1966 ia memimpin misi diplomasi ke Eropa selama 40 hari. Upaya tersebut berhasil membantu memulihkan kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia dan membuka akses bantuan kredit lunak sekitar 174 juta dolar Amerika Serikat.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX wafat pada 3 Oktober 1988 di Washington, DC, Amerika Serikat. Namun, namanya tetap hidup dalam sejarah Indonesia.
Pemilik NIP 010000001 itu bukan sekadar pegawai negeri pertama dalam catatan administrasi negara, melainkan seorang negarawan yang sepanjang hidupnya memilih jalan pengabdian untuk bangsa dan rakyat. (*)