KETIK, JAKARTA – Pengobatan tuberkulosis (TBC) paru aktif yang sensitif terhadap obat umumnya berlangsung selama enam bulan. Namun, penelitian klinis menunjukkan bahwa pasien yang memenuhi kriteria tertentu dapat menjalani regimen pengobatan selama empat bulan.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr dr Desdiani, SpP, MKK, MSc (MBioEt), menjelaskan bahwa salah satu bukti mengenai terapi berdurasi lebih singkat berasal dari Study 31/A5349. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal The New England Journal of Medicine pada 2021.
Studi itu menguji regimen empat bulan yang mengombinasikan rifapentin, isoniazid, pirazinamid, dan moksifloksasin. Hasilnya menunjukkan bahwa regimen tersebut tidak inferior dibandingkan terapi standar enam bulan pada pasien TBC paru sensitif obat yang memenuhi kriteria penelitian.
“Artinya, efektivitasnya tidak lebih buruk dari terapi standar dalam batas penilaian yang ditentukan," ujarnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemangkasan durasi pengobatan TBC aktif dapat dilakukan melalui regimen yang telah diuji secara klinis. Namun, hasil penelitian itu tidak bisa digeneralisasi menjadi rekomendasi bahwa semua pasien TBC dapat menyelesaikan pengobatan dalam empat bulan.
Baca Juga:
Pakar AI Ingatkan Kecerdasan Buatan Bisa Berhalusinasi, Tidak Semua Jawabannya Benar
Kombinasi obat menentukan keberhasilan terapi
Desdiani menjelaskan bahwa keberhasilan terapi singkat tidak hanya bergantung pada durasi pengobatan, tetapi juga pada kombinasi obat yang digunakan.
“Ini berarti keberhasilan tidak hanya ditentukan lamanya terapi, tetapi juga kombinasi obat,” kata Dr Desdiani.
Baca Juga:
Telur Ayam Fertil Tidak Layak untuk Dikonsumsi, Ini AlasannyaIa menyoroti bahwa regimen empat bulan yang diuji tanpa moksifloksasin tidak berhasil membuktikan noninferioritas terhadap terapi standar. Hal ini menegaskan pentingnya memperhatikan komposisi obat dan bukti penelitian sebelum menerapkan regimen yang lebih singkat.
Selain pada kelompok pasien dewasa yang memenuhi kriteria, regimen empat bulan juga dapat diterapkan pada sebagian anak dan remaja dengan TBC nonberat. Namun, penerapannya tetap bergantung pada kriteria klinis dan rekomendasi yang berlaku, bukan semata-mata usia pasien atau keinginan memperpendek masa pengobatan.
Sementara itu, pengobatan standar untuk kasus baru TBC paru aktif yang sensitif terhadap obat umumnya menggunakan regimen 2HRZE/4HR selama enam bulan. Pada dua bulan pertama, pasien menerima isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol, kemudian melanjutkan isoniazid serta rifampisin selama empat bulan.
Tidak semua pasien dapat menjalani terapi singkat
Desdiani mengingatkan bahwa dokter perlu mempertimbangkan jenis TBC, kondisi pasien, sensitivitas kuman terhadap obat, dan kesesuaian regimen sebelum menentukan durasi terapi. Karena itu, pasien tidak boleh mengurangi masa pengobatan berdasarkan informasi tentang keberhasilan regimen singkat pada kelompok tertentu.
Wacana pengobatan TBC selama satu bulan juga perlu dibedakan dari bukti penelitian mengenai regimen empat bulan untuk TBC aktif. Sejumlah terapi pencegahan infeksi TBC laten memang berdurasi lebih singkat, tetapi hal tersebut tidak membuktikan bahwa TBC aktif dapat diobati dalam waktu yang sama.
Selain memastikan pemilihan regimen yang tepat, tenaga kesehatan perlu membantu pasien menyelesaikan terapi sesuai anjuran. Penghentian obat terlalu cepat atau regimen yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan, kekambuhan, dan resistensi obat. (*)