KETIK, BATU – Sekolah Rakyat Menengah Pertama 14 (SRMP 14) Kota Batu kini tercatat sebagai salah satu sekolah rakyat dengan jumlah siswa terbanyak di Indonesia.

Hampir satu tahun operasional, sekolah berbasis asrama tersebut dihuni 149 siswa dari kuota awal 150 peserta didik.

Sekolah yang menempati kompleks Panti Perlindungan dan Pelayanan Sosial Petirahan Anak Bhima Sakti di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, itu menampung anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang berasal dari Kota Batu, Kabupaten Malang, Kediri, hingga sejumlah daerah sekitar yang belum memiliki sekolah rakyat sendiri.

Kepala SRMP 14 Kota Batu, Yulianah, mengatakan proses perjalanan sekolah sejak pembukaan pendaftaran hingga saat ini penuh tantangan. 

Menurutnya, seluruh tenaga pendidik dituntut bekerja ekstra karena tidak hanya mendampingi siswa dalam kegiatan belajar, tetapi juga kehidupan sehari-hari di asrama.

Baca Juga:
Perputaran Uang Capai Rp3,7M, Pedagang Pasar Pagi Kota Batu Butuh Kepastian

“Pada awal pembukaan kami menerima siswa dalam dua tahap. Gelombang pertama sebanyak 100 anak hingga Agustus, lalu bertambah 50 siswa lagi pada tahap berikutnya sehingga total kuotanya menjadi 150 siswa,” paparnya, Jumat, 15 Mei 2026.

Ia menjelaskan, hingga memasuki bulan ke-10 operasional, jumlah siswa tersisa 149 orang setelah satu siswa mengundurkan diri karena alasan kesehatan.

“Satu siswa mengundurkan diri pada Oktober lalu karena kondisi kesehatan. Orang tuanya keberatan jika anaknya tetap tinggal di sekolah rakyat sehingga sampai sekarang belum ada pengganti,” katanya.

Selain menjalani pendidikan formal, para siswa juga tinggal penuh di asrama dengan sistem pembinaan karakter yang diterapkan selama 24 jam. 

Baca Juga:
Meskipun Batal, Proyek DED Gedung DPRD Kota Batu Senilai Rp462 Juta Banjir Kritik Warganet

Menurut Yulianah, para siswa telah mengikuti ujian tengah semester hingga ujian akhir semester serta menerima dua jenis rapor.

“Anak-anak mendapatkan dua rapor. Pertama rapor akademik dan kedua rapor keasramaan. Dalam rapor asrama terdapat penilaian karakter seperti kedisiplinan, kebersihan, ketertiban, hingga spiritual,” jelasnya.

Ia menambahkan, kemampuan siswa di sekolah rakyat sangat beragam. Ada yang unggul secara akademik, ada yang menonjol dalam karakter, hingga ada pula yang masih membutuhkan pendampingan lebih intensif.

“Keragaman kemampuan itu wajar dan juga ada di sekolah umum. Tantangan kami adalah bagaimana membersamai mereka. Saya selalu berpesan kepada guru agar mendampingi anak sesuai kemampuannya, bukan memaksakan,” tuturnya.

Bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar, sekolah menyiapkan pendampingan tambahan di luar jam pembelajaran reguler agar ketertinggalan mereka bisa dikejar secara bertahap.

Yulianah mengaku pengalaman memimpin sekolah rakyat memberikan tantangan tersendiri karena guru dan pengelola asrama memiliki tanggung jawab penuh terhadap kehidupan siswa.

“Kami memiliki tanggung jawab selama 24 jam. Kondisi ini sangat berbeda dibanding sekolah reguler. Berat memang, tetapi justru di situlah saya merasa pendidikan sesungguhnya terjadi,” ungkapnya.

Meski demikian, ia memastikan seluruh kebutuhan siswa selama tinggal di asrama telah dipenuhi pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia.

“Anak-anak mendapatkan fasilitas lengkap, mulai kebutuhan kebersihan, makan, perlengkapan belajar, hingga komputer untuk laboratorium TIK. Negara benar-benar hadir membiayai mereka secara menyeluruh,” katanya.

Sementara itu, Ketua OSIS SRMP 14 Kota Batu, Tegar Haddani Robbi, mengaku bersyukur dapat menempuh pendidikan di sekolah rakyat. Siswa asal Kelurahan Pesanggrahan tersebut menilai sekolah rakyat memberinya kesempatan yang sebelumnya sulit ia peroleh karena keterbatasan ekonomi keluarga.

“Bagi saya sekolah di sini adalah keberuntungan karena tidak semua anak bisa masuk. Walaupun kami memiliki keterbatasan ekonomi, kami tetap punya masa depan. Terima kasih kepada pemerintah karena sudah memberikan kesempatan kepada anak-anak seperti saya,” tutur Tegar.