KETIK, MALANG – Progres angkutan pelajar gratis di Kota Malang masih sampai pada tahap negosiasi tarif. Belum ada kesepakatan tarif antara pemerintah dan juga sopir angkot.
Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Malang, Purwono Tjokro Darsono, menjelaskan semula Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang menawarkan tarif angkutan pelajar Rp3.600 per kilometer. Namun, nominal tersebut dinilai kecil, sedangkan sopir angkot menawarkan agar tarif Rp6.000.
"Nanti sistem pembayaran per kilometer, bukan dihitung per siswa. Sampai saat ini kalau dari dishub masih Rp5.000, kami ingin minimal Rp6.000. Sehingga masih cocok-cocokan tarif," ujarnya, Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurutnya, dengan tarif Rp6.000 per kilometer, sopir angkot dapat menerima gaji dari Pemkot Malang Rp90.000 dengan jarak tempuh paling pendek 16 kilometer. Nominal tersebut dinilai cukup sebanding dengan pengeluaran sopir sehingga dapat digunakan untuk perbaikan armada.
Untuk merealisasikan program tersebut, Pemkot Malang telah menyediakan anggaran sebesar Rp1,9 miliar. Gaji yang diterima oleh sopir pun akan dikirim melalui koperasi angkot.
Baca Juga:
Tiga Kafe Hits di Kawasan Soekarno Hatta Malang, Hadirkan Sensasi Nongkrong dengan Konsep Berbeda"Anggaran pemerintah tidak boleh langsung ke pribadi, jadi harus melalui koperasi. Saat ini ada empat koperasi angkot," lanjutnya.
Nantinya para sopir harus memiliki ruang komunikasi dengan wali murid untuk memastikan jadwal penjemputan. Kontrak kerja juga akan disiapkan agar program tersebut berjalan sesuai dengan perencanaan.
"Sistem sudah disiapkan, bisa melacak keberadaan sopir. Sehingga bisa terlihat siapa yang belum jalan atau semua sudah sesuai SOP. Sopir harus punya HP agar lokasi bisa terlacak," ungkapnya.
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menjelaskan saat ini progres rencana tersebut telah masuk tahap final dan masih menunggu SK dari Gubernur Jawa Timur.
Baca Juga:
Cakupan MBG untuk Ibu Hamil dan Balita Baru 16 Persen, Kota Malang Berpotensi Tambah 25 SPPGDari sekitar 177 armada angkot yang trayeknya masih berfungsi, sebanyak 80 unit armada akan dikerahkan sebagai angkutan pelajar. Standar untuk angkutan pelajar juga telah ditetapkan untuk menjamin keselamatan siswa.
"Angkutan pelajar itu pada jam tertentu tidak boleh dinaiki oleh penumpang umum, khusus jam berangkat dan pulang sekolah. Pelajar yang naik gratis, kalau di luar jam sekolah boleh dinaiki penumpang umum sebagai feeder. Sementara ini kita pakai sistem manual dulu," kata Jaya.(*)