KETIK, YOGYAKARTA – Rencana penerapan skrining kesehatan mental di sekolah maupun perguruan tinggi dinilai sebagai langkah positif untuk mendeteksi dini berbagai persoalan psikologis pada remaja. Namun, proses tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diikuti sistem pendampingan yang berkelanjutan.
Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa skrining hanya berfungsi sebagai tahap awal untuk mengidentifikasi individu yang membutuhkan bantuan. Menurutnya, manfaat skrining akan sangat terbatas apabila hasilnya tidak ditindaklanjuti dengan layanan konseling maupun pendampingan profesional.
"Screening efektif, tetapi tidak cukup. Hanya mengenali sakitnya tanpa menyediakan cara mengobatinya itu seperti PHP saja," katanya.
Rahmat menilai setiap institusi pendidikan perlu menyiapkan mekanisme yang jelas setelah proses skrining dilakukan. Dengan demikian, peserta didik yang teridentifikasi mengalami persoalan psikologis dapat segera memperoleh bantuan sesuai tingkat kebutuhannya.
Ia mencontohkan penerapan sistem tersebut di lingkungan UGM. Setiap hasil skrining kesehatan mental mahasiswa tidak berhenti pada proses identifikasi, melainkan langsung ditindaklanjuti melalui pemantauan serta pendampingan oleh tenaga profesional yang berada di bawah koordinasi Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM).
Baca Juga:
34,9 Persen Remaja Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental, Ini Peran Orang Tua untuk Deteksi Sejak DiniPendekatan tersebut memungkinkan mahasiswa memperoleh layanan yang berkesinambungan sehingga persoalan psikologis dapat ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Rahmat berharap pola serupa dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai sekolah, perguruan tinggi, maupun lembaga pendidikan lainnya. Menurutnya, keberhasilan deteksi dini sangat bergantung pada kesiapan sistem pendukung yang mampu memberikan layanan setelah proses skrining selesai.
Literasi Kesehatan Mental Perlu Terus Ditingkatkan
Baca Juga:
Kesehatan Mental Remaja di Indonesia Mengkhawatirkan, Sepertiga Pernah Mengalami Masalah PsikologisSelain memperkuat layanan pendampingan, Rahmat menilai peningkatan literasi kesehatan mental juga menjadi kebutuhan penting. Ia melihat pemahaman masyarakat mengenai isu kesehatan mental mulai membaik dalam beberapa tahun terakhir sehingga semakin banyak orang yang berani mencari bantuan profesional.
Menurutnya, peningkatan literasi harus dibarengi dengan tersedianya akses layanan yang mudah dijangkau. Mahasiswa maupun pelajar perlu mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta bantuan ketika mengalami tekanan psikologis.
"Literasi terhadap kesehatan mental belakangan ini sudah mulai membaik. Yang mengalami masalah kesehatan mental sudah paham kapan membutuhkan bantuan dan kepada siapa harus meminta bantuan," ujarnya.
Rahmat juga mengingatkan masyarakat agar tidak lagi memberikan stigma negatif terhadap gangguan kesehatan mental. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan masalah kesehatan yang memerlukan penanganan layaknya penyakit fisik.
Jangan Malu Mencari Pertolongan
Di akhir pembahasannya, Rahmat berpesan agar remaja tidak merasa malu ketika menghadapi persoalan kesehatan mental. Ia menilai menerima kondisi yang sedang dialami merupakan langkah awal menuju proses pemulihan.
Menurutnya, meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.
"Masalah kesehatan mental dalam satu dan lain situasi tidak bisa dihindari. Jadi sikap yang baik adalah menerima bahwa saya memang sedang mengalami masalah kesehatan mental dan tidak perlu malu untuk meminta bantuan," ungkapnya.
Rahmat meyakini pengalaman menghadapi persoalan psikologis justru dapat menjadi proses pembelajaran apabila ditangani dengan baik. Dengan dukungan lingkungan dan layanan yang tepat, remaja dapat tumbuh menjadi individu yang lebih tangguh.
"Dari masalah kesehatan mental yang diatasi dengan baik, justru akan menjadi proses pertumbuhan pribadi menjadi sosok yang matang, secara psikologis capable, dan siap menjalankan semua peran kehidupan yang ada," pungkasnya.
Pada sisi lain, tingginya angka persoalan kesehatan mental pada remaja menunjukkan pentingnya deteksi dini dan kemampuan membedakan antara krisis perkembangan yang normal dengan gangguan kesehatan mental. Pembahasan tersebut diulas lebih mendalam pada artikel lainnya.
Peran keluarga juga tidak kalah penting dalam menjaga kesehatan mental remaja. Orang tua perlu membangun komunikasi yang hangat, mengenali perubahan perilaku anak, serta memberikan ruang yang aman agar remaja berani menyampaikan masalah yang dihadapi. (*)