KETIK, JEMBER – Memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Pesantren Ahlul Irfan Al-Kholily yang berlokasi di Bangsalsari, Jember, Jawa Timur, menggelar rangkaian perlombaan khas kemerdekaan selama dua hari berturut-turut, yakni Minggu, 16 Agustus 2026 hingga Senin, 17 Agustus 2026.
Sebanyak lima cabang perlombaan dihadirkan untuk menyemarakkan pesta kemerdekaan di lingkungan pesantren, meliputi lomba makan kerupuk, estafet tepung, bom air, tarik tambang, dan turnamen futsal.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang bukan hanya sebagai ajang ketangkasan fisik dan hiburan, melainkan juga sarana mempererat tali silaturahmi serta menanamkan nilai kepahlawanan di kalangan santri.
Penanggung Jawab Acara (Person in Charge) Kegiatan Kemerdekaan PP Ahlul Irfan Al-Kholily, Saiful Anam, menjelaskan bahwa pelaksanaan lomba terbagi dalam dua tahapan dengan fokus berbeda setiap harinya.
"Kegiatan ini kami konsep untuk mempererat ukhuwah islamiah dan menanamkan nilai perjuangan kepada para santri. Perlombaan kami bagi dalam dua hari," ujarnya.
Baca Juga:
Mahasiswa KKN Aspikom Pelajari Mantra Warisan Leluhur Hindu Tengger"Hari pertama diisi lomba ketangkasan yang penuh kebersamaan seperti makan kerupuk, estafet tepung, dan bom air. Sementara itu, hari kedua menjadi puncak kompetisi fisik melalui tarik tambang dan futsal," lanjut Saiful Anam di lokasi acara, Senin, 17 Agustus 2026.
Hari Pertama: Gelak Tawa dan Ketangkasan Santri
Rangkaian acara hari pertama diawali pukul 08.00 WIB dengan pembukaan dan rapat teknis (technical meeting), dilanjutkan senam bersama untuk pemanasan. Kompetisi resmi dibuka melalui lomba makan kerupuk yang diikuti perwakilan tiap kamar.
Aturan lomba yang mewajibkan peserta menggapai kerupuk tanpa bantuan tangan menghasilkan suasana kompetitif sekaligus menghibur. Sorak dukungan penonton menyertai perjuangan peserta saat menghabiskan kerupuk dalam batas waktu 2 menit pada babak penyisihan.
Baca Juga:
Semarak HUT ke-81 RI, Kecamatan Socah Bangkalan Gelar Beragam Lomba dan Pemeriksaan Kesehatan GratisKegiatan berlanjut dengan lomba estafet tepung yang melibatkan 13 tim perwakilan kamar. Setiap tim bertugas memindahkan tepung terigu menggunakan piring plastik di atas kepala tanpa menoleh ke belakang. Kerja sama, ketelitian, dan ritme penuangan menjadi ujian utama. Momen tepung yang tumpah membaluri wajah serta pakaian peserta pun memicu tawa riang penonton.
Menjelang siang, lomba bom air menutup rangkaian hari pertama. Setiap perwakilan kamar bersaing melempar dan menangkap kantong air plastik dengan tingkat kehati-hatian tinggi. Agenda hari pertama rampung pukul 10.30 WIB setelah area perlombaan dibersihkan secara gotong royong (clear area).
Hari Kedua: Puncak Adu Kekuatan dan Kerja Sama Tim
Hari kedua yang bertepatan dengan 17 Agustus 2026 menjadi puncak peringatan kemerdekaan. Usai pengarahan singkat pada pukul 08.00 WIB, kompetisi antarlantai asrama dimulai lewat lomba tarik tambang.
Empat tim perwakilan lantai beradu strategi dan ketahanan fisik dalam laga berdurasi maksimal 10 menit. Penonton di sekeliling lapangan riuh memberi semangat. Kendati persaingan berlangsung sengit, para peserta tetap menjunjung tinggi sportivitas dengan saling berjabat tangan seusai laga.
Sebagai pemungkas, Turnamen Futsal Antarlantai digelar pukul 08.45 hingga 10.15 WIB. Empat tim bersaing dalam sistem gugur dengan alokasi waktu 30 menit (5 menit pemanasan, 10 menit babak pertama, 5 menit jeda, dan 10 menit babak kedua). Pertandingan bergulir dinamis dengan kerja sama tim yang solid, sementara dinamika di lapangan tetap diselesaikan secara santun khas nilai-nilai pesantren.
Merawat Kebersamaan dan Nilai Kedisiplinan
Seluruh agenda rampung pukul 10.30 WIB yang ditutup dengan aksi bersih-bersih area bersama. Menurut Saiful Anam, kelancaran acara ini membuktikan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui pembinaan kedisiplinan dan persatuan.
"Kemenangan sejati bukan sekadar meraih juara, melainkan bagaimana santri memetik pelajaran tentang kerja sama, keikhlasan, dan sportivitas. Kami berharap semangat ini terus terjaga dalam keseharian santri di pondok pesantren," pungkas Saiful Anam.(*)