KETIK, JAKARTA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kawasan Timur Tengah tidak membutuhkan Amerika Serikat (AS) untuk bertindak sebagai “polisi kawasan”.
Pernyataan itu disampaikan di tengah perang yang masih berlangsung dan ketegangan antara Teheran dan Washington terkait kendali atas Selat Hormuz.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut saat menghadiri rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di Bharat Mandapam, New Delhi, Republik India, Sabtu, 12 September 2026.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, ia menekankan bahwa keamanan kawasan seharusnya dijamin oleh negara-negara yang berada di kawasan tersebut.
"Kami tidak membutuhkan polisi kawasan," kata Pezeshkian, seperti dilansir AFP, Sabtu, 12 September 2026.
Baca Juga:
KTT BRICS ke-18 di New Delhi, Prabowo Bawa Hajat Indonesia dalam Isu Global"Integritas wilayah dan keamanan kawasan ini hanya dapat dijamin oleh para pemain utamanya dan negara-negara yang berada di dalamnya," tegasnya.
Iran disebut telah berada dalam kondisi perang sejak 28 Februari setelah serangan gabungan AS dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, mendiang Ayatollah Ali Khamenei.
Teheran kemudian melancarkan serangan balasan ke berbagai wilayah di Timur Tengah dan memblokade Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu jalur strategis bagi perdagangan energi dunia, yang sebelum perang dilintasi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Sejak konflik berlangsung, Iran dan AS terlibat dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz. Sebelum perang, jalur tersebut bebas dilintasi kapal-kapal berbagai negara. Namun, Iran kini mewajibkan kapal memperoleh izin dan disebut sedang mempertimbangkan mekanisme pemungutan biaya transit.
Baca Juga:
Jelang Hadiri KTT BRICS, Presiden Prabowo Disambut Mahasiswa dan Diaspora Indonesia di New DelhiKapal yang tidak mematuhi aturan tersebut juga disebut kerap menjadi sasaran serangan Iran. Sementara itu, AS secara berkala membombardir wilayah pesisir Iran untuk menantang kendali Teheran atas Selat Hormuz.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari enam bulan tersebut turut berdampak terhadap pasar energi. Blokade Iran atas Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak hingga pada pekan ini menembus US$100 per barel.
Di tengah konflik tersebut, Pezeshkian menegaskan Iran tidak menginginkan perang terus berlanjut dan tetap mengutamakan perdamaian.
"Terlepas dari segala ketidakadilan yang dialami rakyat kami, kami tidak menginginkan perang atau kelanjutannya. Perdamaian tetap menjadi prioritas kami," tandas Pezeshkian.(*)