KETIK, BATU – Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menetapkan Elang Jawa sebagai maskot desa. Keputusan tersebut didorong keberadaan burung langka itu yang masih terpantau hidup liar di hutan Gunung Pucung.
Berdasarkan pemantauan ProFauna Indonesia pada Januari 2022, sedikitnya tiga ekor Elang Jawa teridentifikasi hidup bebas di habitat alaminya.
Dalam perkembangannya, jumlah satwa endemik Pulau Jawa itu disebut bertambah. Informasi dari para petani, kini ada sekitar lima ekor Elang Jawa yang kerap terlihat melintas di langit kawasan hutan Gunung Pucung.
Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, mengatakan, keberadaan Elang Jawa menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat desa.
Selain langka, burung pemangsa tersebut memiliki ciri khas bulu cokelat kehitaman dengan jambul mencolok di bagian kepala.
Baca Juga:
BIKFF 2026 Jadi Magnet Baru Kota Wisata Batu, 200 Film dari 23 Negara Ikut Bersaing“Keberadaan Elang Jawa di wilayah kami merupakan kekayaan alam yang wajib dijaga bersama. Karena itu, kami menetapkannya sebagai maskot Desa Bulukerto,” ujarnya, Rabu, 29 April 2026.
Ia menjelaskan, keputusan menjadikan Elang Jawa sebagai simbol desa telah melalui pembahasan bersama berbagai unsur masyarakat.
Mulai dari tokoh lingkungan, sesepuh desa, hingga warga dilibatkan dalam proses penetapan tersebut.
“Walaupun satwa ini tidak setiap hari terlihat di area pertanian warga, semua pihak sepakat Elang Jawa pantas menjadi identitas desa karena nilai konservasinya sangat tinggi,” katanya.
Baca Juga:
Mikutopia Siap Pasang Pagar di Jembatan Kembar Cangar, Tunggu Izin Pihak BerwenangMenurut Suhermawan, kondisi hutan Gunung Pucung saat ini masih cukup mendukung sebagai habitat alami Elang Jawa untuk berkembang biak.
Meski demikian, ancaman terhadap kelestarian satwa tersebut tetap ada, terutama akibat perubahan fungsi lahan di sejumlah kawasan hutan.
Ia menilai upaya penghijauan dan reboisasi harus terus diperkuat agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Menurutnya, keberadaan pohon-pohon besar menjadi faktor penting bagi sumber mata air maupun habitat satwa liar.
“Apapun status hutannya, penghijauan harus dilakukan maksimal. Jika kawasan hijau tetap terjaga, sumber air akan kuat dan satwa seperti Elang Jawa bisa terus hidup serta berkembang biak,” tuturnya.
Elang Jawa dikenal sebagai salah satu burung pemangsa paling langka di Indonesia. Burung ini juga kerap disebut memiliki kemiripan dengan sosok Garuda yang menjadi lambang negara. (*)