KETIK, MALANG – Isu yang mengaitkan Pesarean Gunung Kawi dengan praktik pesugihan dibantah oleh para peziarah yang datang langsung ke lokasi. Salah satunya Halim (bukan nama sebenarnya), pengusaha asal Medan, yang mengaku rutin berziarah ke Gunung Kawi. 

Halim mengatakan pertama kali mengenal Pesarean Gunung Kawi dari rekan sesama pengusaha. Tahun lalu ia datang untuk berziarah dan bernazar. Apabila usahanya berjalan lancar, ia berjanji akan kembali menggelar selamatan sebagai bentuk rasa syukur.

"Tahun lalu saya ke sini selama tiga hari. Saya berdoa, menenangkan diri, dan suasananya memang membuat pikiran lebih jernih sehingga doa juga lebih fokus," ujarnya.

Setahun berselang, Halim kembali ke Pesarean Gunung Kawi untuk memenuhi nazarnya.

Ia menegaskan tidak pernah menemukan praktik pesugihan ataupun permintaan tumbal seperti yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Baca Juga:
Pesarean Gunung Kawi Tegaskan Bukan Tempat Pesugihan, Sebut Isu Negatif Rugikan Warga Sekitar

"Tidak ada pesugihan. Tidak ada minta tumbal. Doa tetap kepada Tuhan. Saya datang ke sini untuk berdoa dan menunaikan nazar," katanya.

Menurut Halim, ketenangan suasana di kawasan pesarean menjadi alasan banyak orang datang untuk berdoa dan melakukan refleksi diri.

"Di sini enak. Suasananya tenang. Adem. Berdoa bisa khusyuk, berpikir pun bisa fokus," kata Halim.

Loket pendaftaran selamatan dan nadzar di Pesarean Gunung Kawi. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Baca Juga:
Ciamsi di Pesarean Gunung Kawi Jadi Ikhtiar Mencari Petunjuk, Terbuka untuk Semua Pengunjung

Sementara itu, Staf Humas dan Media Sosial Pesarean Gunung Kawi, Ananda Fatma, menegaskan bahwa Pesarean Gunung Kawi merupakan tempat berziarah, berdoa, mencari ketenangan batin, serta memohon berkah kepada Tuhan. Menurutnya, pengelola terus berupaya memberikan pemahaman kepada masyarakat, baik melalui media digital maupun penjelasan langsung kepada para pengunjung.

Ia juga mengungkapkan bahwa tidak sedikit tokoh maupun tamu penting yang datang ke Pesarean Gunung Kawi. Namun, identitas para peziarah dijaga kerahasiaannya sebagai bentuk penghormatan terhadap privasi.

"Ada tamu-tamu penting yang datang, tetapi kami tidak diperkenankan menyebarkan identitas maupun tujuan kedatangannya. Data pengunjung hanya dicatat di buku tamu dan itu menjadi privasi masing-masing," jelasnya.

Daftar harga paket selamatan dan nadzar di Pesarean Gunung Kawi. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Terkait tradisi selamatan maupun pagelaran wayang yang kerap disalahartikan sebagai ritual pesugihan, Ananda menegaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur atau ruwatan sesuai nazar dan permintaan peziarah.

"Wayang di sini ada wayang syukuran dan wayang ruwatan. Itu sesuai permintaan orang yang bernazar atau bersyukur. Jadi kalau ada yang mengatakan wayangan itu bagian dari ritual pesugihan, itu tidak benar," tegasnya.

Ia berharap masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa melakukan verifikasi. Menurutnya, siapa pun yang datang langsung ke Pesarean Gunung Kawi dapat melihat bahwa aktivitas utama di kawasan tersebut adalah berziarah, berdoa, dan mengucapkan syukur, bukan melakukan praktik pesugihan.

"Kami juga meminta agar pengunjung tidak asal mempercayai orang yang mengaku sebagai juru kunci Pesarean Gunung Kawi," tandasnya.