KETIK, MALANG – Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola nasional. M. Basri, pelatih senior paling karismatik yang pernah dimiliki Indonesia, dikabarkan telah berpulang. Pria kelahiran Makassar, 5 Oktober 1942, itu meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi Arema FC yang pernah ia antarkan meraih gelar juara pertama pada era Galatama.
Kepergian M. Basri menjadi kehilangan besar bagi sepak bola Indonesia. Namanya bukan hanya dikenal sebagai pelatih, melainkan juga bagian dari sejarah panjang yang mengukir prestasi di berbagai klub, termasuk kebanggaan Aremania.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan klub Singo Edan.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami sekeluarga besar Arema FC sangat kehilangan atas berpulangnya M. Basri. Beliau adalah pelatih dengan dedikasi tinggi yang telah menorehkan sejarah emas bagi Arema," ujar Yusrinal.
"Prestasi beliau membawa Arema menjadi juara Galatama 1992-1993 merupakan warisan yang tidak akan pernah kami lupakan. Kami mendoakan semoga almarhum husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," imbuhnya.
Baca Juga:
3.513 Stel Seragam Gratis Kota Malang Kembali Dibagikan, Anggaran Berkurang Jadi Rp1,5 MiliarRekam Jejak Sang Maestro
M. Basri memulai kariernya sebagai pemain sepak bola. Ia pernah membela Tim Nasional Indonesia pada ajang Asian Games 1962 dan menjadi bagian dari skuad PSM Makassar yang meraih gelar juara Kompetisi Perserikatan musim 1964-1965 dan 1965-1966.
Nama Basri mulai melambung ketika mengemban amanah sebagai pelatih. Ia sukses membawa Persebaya Surabaya menjadi juara Perserikatan 1977 dan menjadi bagian penting dari kesuksesan NIAC Mitra dengan meraih gelar juara Galatama pada 1981, 1982, dan 1986. Kiprahnya di NIAC Mitra kemudian mengantarkannya menangani Tim Nasional Indonesia senior pada dua periode, yakni 1983 dan 1989.
Sosok di Balik Gelar Perdana Arema FC
Baca Juga:
Hari Anak Nasional, Disdikbud Kota Malang Minta Guru Anggap Murid Layaknya Anak SendiriPada 1991, Basri dipercaya menangani Arema Malang. Kehadirannya sebagai pelatih merupakan permintaan langsung dari pendiri Arema, Acub Zainal.
Di bawah asuhannya, Arema tampil kompetitif dan berhasil meraih gelar juara Galatama musim 1992-1993. Pada musim tersebut, Arema keluar sebagai juara dengan koleksi 45 poin dari 32 pertandingan, hasil dari 18 kemenangan, 9 kali imbang, dan 5 kekalahan. Kesuksesan itu menjadi fondasi awal kejayaan Arema di kancah sepak bola nasional.
Saat menjadi pelatih, Basri dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang tegas dan disiplin. Meski demikian, ia juga merupakan motivator ulung yang aktif berdiskusi dengan para pemainnya. Ia dikenal memiliki kejelian dalam membaca kelemahan lawan dan merancang strategi pertandingan.
Dedikasi Panjang untuk Sepak Bola Indonesia
Setelah menangani Arema, Basri terus melanjutkan kiprahnya di berbagai klub, di antaranya Mitra Surabaya (1994), PSM Makassar (1995-1999 dan 2005-2006), Persita Tangerang (2004-2005), Persela Lamongan (2007-2009), serta Persiba Bantul (2012-2013).
Sepanjang kariernya di dunia sepak bola, Basri selalu memegang teguh filosofi untuk memprioritaskan pemain putra daerah.
"Secara teknis mungkin mereka sama dengan pemain lain. Tapi, mereka punya motivasi dan semangat tak mau kalah," tutur Basri dalam sebuah kesempatan.
Duka Cita bagi Keluarga Besar Arema
M. Basri berpulang dengan meninggalkan warisan panjang bagi sepak bola Indonesia. Dedikasi dan jasanya dalam memajukan sepak bola nasional, khususnya mengantarkan Arema FC meraih gelar juara Galatama pertama, akan selalu dikenang.
Seluruh keluarga besar Arema FC menyampaikan selamat jalan kepada M. Basri. Jasa, dedikasi, dan keteladanannya akan tetap hidup di hati Aremania serta seluruh pencinta sepak bola Indonesia. (*)