KETIK, SURABAYA – Setiap sore menjelang pukul 17.00 WIB, sebuah gerobak kaki lima mangkal di Jalan Srikana, Airlangga, Surabaya. Aromanya cukup untuk mengundang antrean mahasiswa dan warga sekitar: Nasi Goreng Mbah Darman, yang sudah bertahan sejak masa pandemi dengan gerobak yang sama dari awal berjualan hingga sekarang.
Pak Ferdi (37) adalah orang di balik gerobak itu. Tidak ada alasan muluk-muluk yang melatarbelakangi keputusannya berjualan nasi goreng. "Nggak ada dorongan, tapi tiba-tiba pengen aja. Tiba-tiba pengen," akunya.
Nama Mbah Darman sendiri punya cerita yang agak di luar dugaan. Diambil dari nama kakeknya, nama itu muncul setelah Pak Ferdi bermimpi tentang sang kakek yang sudah meninggal. Dari mimpi itulah nama Mbah Darman melekat dan bertahan sebagai identitas warung sampai sekarang.
Dulu Pak Ferdi menjalankan usaha ini sendirian. Sekarang, kakak dan istrinya ikut turun tangan. Warung buka setiap hari mulai pukul 17.00 WIB, dan tutup begitu dagangan habis, paling malam pukul 21.30 WIB.
Nasi Goreng Mbah Darman mulai dikenal luas lewat menu kwetiau. "Terus sempat viral pertama saya itu, kwetiau saya itu toh. Waktu opening itu tak bikin yang normal, biasa, yang cacah. Ternyata kok banyak yang request 'minta pedes' 'minta pedes' gitu. Trus tak bikin beda dari yang lain," jelas Pak Ferdi.
Baca Juga:
Sejak 1987! Awalnya Jualan Keliling, Bakso ’’Ho’oh Tenan’’ Kini Jadi Favorit Santri Al-Jihad"Tercetuslah akhirnya bumbu yang sekarang tak jual. Aku juga jual bumbu kwetiau, yang memang notabenenya orang-orang itu, kalo kesini pengen kwetiau, kwetiau yang pedes, gitu. Kebanyakan ada yang bilang, request, 'Bang, nggak pengen yang bisa tak bawa pulang, tak bikin masak disana.' 'Okelah nanti tak bikinkan dulu.' Akhirnya tak bikinkan." Bumbu pedasnya kini dibanderol seharga Rp15.000.
Baca Juga:
Semarak Ramadan 1447 H, Pasar Malam Hadir di Lapangan Denggung Sleman dengan Nuansa ReligiusTidak ada satu menu pun yang menonjol di warung ini. Pak Ferdi bilang, tiap pelanggan punya favoritnya sendiri-sendiri, jadi baginya semua menu sama pentingnya. Tapi kalau bicara soal yang paling nyeleneh, jawabannya jelas: nasi goreng kopi, dengan bubuk kopi buatan sendiri yang dicampur langsung ke nasi goreng. Menu ini sempat bikin banyak orang ragu di awal kemunculannya, tapi lama-lama diterima juga. Adapun nasi goreng cumi yang sempat dijual, namun akhirnya dicoret dari daftar menu karena Pak Ferdi merasa itu sudah terlalu umum dan banyak dijual penjual lain.
Untuk harganya, menu di sini mulai dari Rp15.000. Tambahan topping seperti telur, bakso, atau sosis dibanderol Rp3.000 per item, sementara kerupuk dijual Rp2.000.
Yang bikin racikan Pak Ferdi terasa beda dari nasi goreng kebanyakan bukan cuma soal komposisi bumbu, tapi juga soal keaslian resepnya. Ia menegaskan tidak ada satu pun menu yang meniru penjual lain, semuanya hasil racikan dan eksperimennya sendiri, wajar saja mengingat ia memang penggemar kuliner. Nasi gorengnya pun diolah tanpa micin, saus, atau merica. Soal rencana ke depan, Pak Ferdi mengaku masih punya kejutan lain. "Ini ada menu baru lagi. Mau tak launching Minggu depan, gitu," ujarnya.
Kedekatan dengan pelanggan juga jadi bagian penting dari cerita warung ini. Suatu waktu, Pak Ferdi mendengar keluhan dari beberapa mahasiswa pelanggannya yang sebentar lagi lulus dan khawatir tidak bisa lagi menikmati nasi goreng buatannya. Dari situ ia mulai membuat gantungan kunci berlogo Mbah Darman, hasil karya tangannya sendiri, untuk diberikan kepada pelanggan yang sudah rutin membeli sekitar dua bulan lamanya.
Soal cabang, sampai sekarang belum ada rencana untuk membuka yang baru. Pak Ferdi memilih mengembangkan usahanya sendiri, tanpa bantuan pihak lain.
Intan, mahasiswi Unesa, pertama kali mampir ke warung ini karena diajak temannya. Ia memesan nasi goreng bakso. "Menurut saya nasi gorengnya maknyus. Nasinya terasa bumbunya, tidak hambar. Di antara nasi goreng yang saya temui di Surabaya, baru kali ini saya menemui nasi goreng yang pas di lidah saya. Pokoknya the best," katanya.
Kara, mahasiswi Unesa lainnya, singgah ke warung ini sepulang magang dan memesan nasi goreng saus padang. "Rasa unik perpaduan antara saus padang dengan nasi yang diolah bersamaan. Cocok untuk orang yang suka pedas dan tentunya suka saus padang. Worth it banget. Recommended," ujarnya.
Dari gerobak kaki lima yang sederhana, Nasi Goreng Mbah Darman tumbuh bukan karena strategi besar, melainkan racikan yang jujur dan kedekatan yang dijaga pelan-pelan dengan pelanggannya. (*)