KETIK, BOJONEGORO – Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal terus dilakukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) SDGs Kelompok 04 Bojonegoro Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur.
Melalui program bertajuk “Workshop Optimalisasi Potensi Lele Melalui Inovasi Produk Dimsum Lele Keju”, mahasiswa KKN menggandeng ibu-ibu PKK Desa Karangdayu, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro untuk belajar bersama mengolah hasil budidaya lele menjadi produk pangan yang lebih inovatif dan bernilai ekonomis.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 5 Agustus 2026 di Balai Desa Karangdayu dan diikuti ibu-ibu PKK dengan penuh antusias.
Workshop tersebut diangkat dari kondisi Desa Karangdayu yang memiliki potensi budidaya ikan lele cukup besar. Selama ini hasil panen masyarakat sebagian besar dijual dalam keadaan segar atau diolah menjadi lele asap.
Meskipun telah menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat, pemanfaatan lele dinilai masih memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Baca Juga:
Gerak Cepat Wabup Bojonegoro Nurul Azizah Sidak Jalan Berlubang Baureno, Perbaikan Dimulai SelasaAtas dasar itulah mahasiswa KKN menghadirkan inovasi dimsum lele keju sebagai salah satu alternatif diversifikasi produk yang mudah diproduksi, digemari berbagai kalangan, dan berpotensi menjadi produk unggulan desa.
Pelaksana menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan mengajarkan cara mengolah lele menjadi makanan kekinian, tetapi juga membangun pola pikir masyarakat agar lebih berani melakukan inovasi terhadap potensi yang dimiliki desa.
“Desa Karangdayu memiliki sumber daya yang sangat baik, khususnya di sektor perikanan. Kami berharap masyarakat tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga,” ujarnya.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai peluang usaha berbasis olahan lele. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bahwa inovasi produk merupakan salah satu strategi penting untuk meningkatkan daya saing UMKM.
Mahasiswa KKN menjelaskan bagaimana produk sederhana dapat memiliki nilai jual lebih tinggi apabila dikemas secara menarik dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.
Memasuki sesi utama, peserta mengikuti demonstrasi pembuatan dimsum lele keju. Mahasiswa memperagakan setiap tahapan mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan daging lele, pencampuran adonan, proses pembentukan dimsum, hingga teknik penggorengan agar menghasilkan tekstur yang lembut dengan cita rasa yang gurih.
Setelah demonstrasi selesai, mahasiswa KKN membagikan hasil olahan yang telah dibuat untuk dicicipi oleh peserta.
Suasana workshop berlangsung interaktif. Tidak sedikit peserta yang mengajukan pertanyaan mengenai komposisi bahan, cara menghilangkan aroma khas lele, teknik penyimpanan produk, hingga peluang usaha yang dapat dikembangkan dari hasil olahan tersebut.
Antusiasme peserta terlihat dari semangat mereka saat mencoba setiap tahapan pembuatan dimsum dan saling berdiskusi mengenai kemungkinan memproduksinya secara mandiri di rumah.
Tidak hanya memberikan pelatihan produksi, mahasiswa KKN juga membekali peserta dengan materi mengenai branding dan pemasaran. Menurut mereka, produk berkualitas akan lebih mudah diterima konsumen apabila memiliki identitas yang jelas.
Oleh karena itu, peserta diperkenalkan pada konsep pembuatan nama produk, logo, tagline, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi.
WhatsApp, Instagram, dan TikTok dipilih sebagai contoh platform digital yang mudah digunakan oleh pelaku UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas tanpa memerlukan biaya promosi yang besar.
Selain branding, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya kemasan produk. Mahasiswa menjelaskan bahwa kemasan bukan sekadar pembungkus, melainkan bagian penting yang menentukan kualitas, keamanan, dan daya tarik suatu produk.
Beberapa jenis kemasan seperti PP tray, standing pouch, vacuum packaging, hingga box karton frozen food diperkenalkan sebagai referensi bagi masyarakat apabila ingin mengembangkan usaha dimsum lele keju secara lebih profesional.
“Biasanya lele hanya digoreng atau diasap. Ternyata bisa dibuat menjadi makanan yang lebih menarik seperti dimsum. Semoga nanti bisa dicoba lagi di rumah, bahkan kalau memungkinkan bisa dijadikan usaha bersama,” ungkap Mei Lia selaku Kepala Desa Karangdayu.
Pemerintah Desa Karangdayu turut mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Kehadiran mahasiswa KKN dinilai mampu memberikan wawasan baru kepada masyarakat mengenai pemanfaatan potensi desa melalui pendekatan yang sederhana, namun memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan dapat terus terjalin sehingga berbagai potensi lokal yang dimiliki desa dapat berkembang menjadi produk yang memiliki daya saing.
Workshop ini menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program kerja, tetapi juga berupaya memberikan manfaat jangka panjang.
Dengan memadukan inovasi produk, strategi pemasaran, dan edukasi mengenai pengemasan, mahasiswa KKN berharap masyarakat memiliki bekal yang cukup untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal secara mandiri.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Kelompok 04 UPN “Veteran” Jawa Timur ingin menunjukkan bahwa komoditas lokal seperti lele tidak hanya memiliki nilai sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi lahirnya produk-produk kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Harapannya, inovasi yang diperkenalkan dalam workshop ini dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Karangdayu sehingga lahir produk unggulan desa yang memiliki daya saing di tingkat lokal maupun regional.
Sejalan dengan pesan yang diangkat dalam workshop, lele bukan hanya dapat diolah menjadi produk tradisional, tetapi juga dapat dikreasikan menjadi produk modern yang bernilai tambah dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.(*)