KETIK, BONDOWOSO – Sebanyak 500 polybag cabai putih kini menghiasi sepanjang jalan Desa Jebung Kidul, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso. Desa yang dikenal sebagai Kampung Oksigen itu kembali mengembangkan pembibitan cabai putih melalui kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Kelompok 192 dengan pemerintah desa. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat.

Selama menjalankan KKN, mahasiswa terlibat aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari menyiapkan media tanam, menyusun polybag, hingga menempatkannya di sepanjang ruas jalan desa. Mereka juga melakukan penyiraman rutin setiap sore, mengganti bibit yang mati, serta memastikan tanaman tetap tumbuh optimal.

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, seluruh polybag dicat dengan kombinasi warna merah dan putih. Langkah itu tidak hanya mempercantik kawasan desa, tetapi juga menciptakan suasana yang lebih semarak.

Kepala Desa Jebung Kidul, Ali Samsidi, mengatakan pemilihan cabai putih didasarkan pada pertimbangan estetika sekaligus nilai ekonomi. Menurutnya, komoditas tersebut memiliki harga jual yang relatif tinggi sehingga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga jika dibudidayakan secara berkelanjutan.

"KKN itu mengambil tema kebersihan lingkungan. Jadi estetikanya dapat, nilai ekonominya juga dapat. Saya pilih cabai putih karena dari segi estetikanya, nanti di sepanjang jalan desa akan terlihat perpaduan warna putih dan merah. Selain itu, cabai putih memiliki nilai jual yang mahal," ujar Ali, Kamis, 23 Juli 2026.

Baca Juga:
Bondowoso Siap Jadi Percontohan Pertanian Modern Nasional

Ali menjelaskan, pembibitan cabai putih merupakan bagian dari gerakan Kampung Oksigen, sebuah inovasi desa yang mendorong ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah. Program tersebut juga diharapkan mampu membangun kemandirian masyarakat dalam mengembangkan budidaya tanaman produktif.

"Harapannya, mereka mampu menciptakan terobosan sendiri melalui gerakan penanaman ini sehingga tumbuh menjadi masyarakat yang mandiri," katanya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa KKN yang tidak hanya menyusun konsep kegiatan, tetapi ikut bekerja langsung di lapangan bersama masyarakat.

 

Baca Juga:
Polres Bondowoso Sabet Juara I IKPA, AKBP Aryo Buktikan Tata Kelola Anggaran Berkelas

Mahasiswa KKN UINSA Surabaya Kelompok 192 mengganti bibit cabai putih yang rusak dengan bibit baru di Desa Jebung Kidul pada sore hari. (Foto: Muhammad Fathir Ahsan Almasruri for Ketik.com)

 

"KKN saya harap bukan hanya bisa mendiskusikan di meja, tetapi mahasiswa juga menjadi pelaku di lapangan dan terlibat langsung dalam mengelola program-program desa," ungkap Ali.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya kerusakan bibit akibat dipatok ayam. Untuk menjaga keberlangsungan program, setiap bibit yang rusak langsung diganti agar jumlah tanaman tetap terjaga.

"Selama proses penyiraman, kami beberapa kali mendapat laporan dari warga bahwa bibit cabai yang rusak itu karena dipatok ayam. Bibit yang rusak langsung kami ganti dengan bibit baru agar jumlah tanaman tetap terjaga dan program ini bisa berjalan sesuai harapan," ujar Nur Fitri Ayu Firdausi, salah seorang mahasiswa KKN.

Program tersebut juga mendapat respons positif dari masyarakat. Warga Desa Jebung Kidul mulai ikut merawat tanaman cabai putih yang ditempatkan di depan rumah masing-masing.

"Setelah tahu itu cabai, ya kami bantu menyiram kalau yang di depan rumah. Harapannya tentu bermanfaat untuk masyarakat dan bisa dimanfaatkan sendiri ketika sudah panen," tutur Maftuhah, salah seorang warga Desa Jebung Kidul.

Koordinator Desa KKN UINSA Kelompok 192, Mochammad Alfian Dwi Bhaihaqi, mengatakan kegiatan pembibitan cabai putih menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa karena mengajarkan pentingnya keberlanjutan sebuah program pemberdayaan masyarakat.

"Melalui program ini kami belajar bahwa keberhasilan sebuah kegiatan tidak berhenti pada proses penanaman, tetapi membutuhkan komitmen untuk terus merawatnya hingga memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Alfian berharap masyarakat terus menjaga dan mengembangkan tanaman cabai putih setelah masa KKN berakhir sehingga manfaat program tersebut dapat dirasakan dalam jangka panjang.

"Kami berharap masyarakat tidak hanya melihat program ini sebagai kegiatan selama KKN, tetapi juga ikut menjaga, merawat, dan mengembangkan tanaman cabai putih agar manfaatnya dapat dirasakan bersama setelah KKN selesai," harapnya.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, pembibitan cabai putih di Kampung Oksigen diharapkan terus berkembang. Selain memperindah lingkungan desa, program ini juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga secara berkelanjutan. (*)