KETIK, BOGOR – Banyak masyarakat mengaku semakin jarang menjumpai kunang-kunang yang dahulu mudah ditemukan di area persawahan, kebun, maupun pekarangan. Fenomena tersebut ternyata bukan sekadar perubahan zaman, melainkan dapat menjadi sinyal menurunnya kualitas lingkungan.
Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Upik Kesumawati Hadi, menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan salah satu bioindikator lingkungan. Keberadaan atau hilangnya serangga bercahaya ini dapat mencerminkan kondisi kesehatan suatu ekosistem.
“Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” jelasnya, seperti dikutip dari laman resmi IPB, Sabtu, 20 Juni 2026.
Menurut Prof Upik, penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia. Berbagai negara juga menghadapi masalah serupa akibat tekanan terhadap habitat alami dan perubahan lingkungan yang terus berlangsung.
Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam. Bahkan sejumlah spesies yang hidup di kawasan mangrove Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand, telah masuk kategori rentan.
Baca Juga:
Kunang-Kunang Kian Langka, Polusi Cahaya dan Lampu LED Ancam Kelangsungan HidupnyaDi Indonesia, berbagai penelitian entomologi juga menunjukkan tren penurunan populasi kunang-kunang, terutama di wilayah perkotaan. Serangga ini dikenal sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan, termasuk perubahan kelembapan tanah dan meningkatnya pencemaran.
“Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan. Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran,” ujar Prof Upik.
Ia mengingatkan bahwa hilangnya kunang-kunang tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele. Semakin sedikit populasi kunang-kunang yang ditemukan di alam, semakin besar kemungkinan terjadi gangguan terhadap keseimbangan ekosistem yang selama ini menopang kehidupan berbagai makhluk hidup.
Karena itu, menjaga kualitas lingkungan menjadi langkah penting untuk memastikan keberadaan kunang-kunang tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. (*)