KETIK, MALANG – Akademisi Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menyoroti perbedaan baby blues dengan depresi postpartum (depresi pasca melahirkan) yang jarang diketahui oleh banyak orang.

Keadaan psikologi ibu pasca melahirkan menjadi perhatian banyak orang. Pasalnya, saat ini banyak kasus di mana mereka tidak dapat mengontrol emosi. Secara biologis, ketika ibu melahirkan, hormon estrogen dan progesteron akan melonjak. 

Lonjakan hormon estrogen dan progesteron pada ibu melahirkan dapat mencapai 50 kali lipat dari Premenstrual Syndrome (PMS). Sehingga, tak jarang dari mereka mengalami dampak psikologi, seperti mudah marah, kecemasan, hingga kesedihan mendalam dan fase ini dikenal sebagai baby blues.

Dalam fase ini, terdapat perbedaan antara baby blues dan depresi postpartum (depresi pasca melahirkan). Beberapa orang masih belum mengetahui bahwa kedua kondisi ini memiliki ciri-ciri yang berbeda bahkan harus didampingi oleh psikolog profesional.

Dr. Elok Halimatus Sa'diyah, M.Si., Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Fakultas Psikologi UIN Malang mengungkapkan bahwa ciri-ciri depresi postpartum, di mana setelah 2 minggu melahirkan, sang ibu semakin menarik diri, tidak ingin makan, tidak ingin menggendong bayi, sedih tidak ada habisnya, hingga membenci dan ingin menyakiti bayi.

Baca Juga:
Akademisi Psikologi UIN Malang Ungkap Kehadiran Suami Bisa Turunkan Risiko Baby Blues hingga 40 Persen

Ketika seorang ibu pasca melahirkan memiliki ciri-ciri tersebut, Elok menjelaskan bahwa kondisi tersebut sudah lebih dari sekadar baby blues dan masuk pada keadaan depresi postpartum atau depresi pasca melahirkan. 

Dalam kondisi tersebut, sang ibu harus dibawa atau didampingi oleh psikolog profesional. Pasalnya kondisi depresi seseorang terkadang menunjukkan fluktuasi emosi yang kuat. Sehingga, mereka perlu mendapatkan obat resep dokter psikologi untuk membuat lebih tenang.

"Kalau baby bluesnya sedihnya datang pergi. Kalau baby blues, ia masih gendong bayi, masih senyum, masih itu tapi kalau udah depresi postpartum, ia benci banget sama bayi, harus menarik diri, ada gangguan makan, gangguan tidur, dan sebagainya. Seringkali kemudian pengen membunuh bayi, itu penanganannya sudah lebih dari orang yang profesional, itu tidak bisa ditemani oleh sakedar konselor karena sudah masuk depresi," ujar Elok.

Elok juga menjelaskan bahwa lamanya kondisi depresi postpartum tidak bisa ditentukan, setiap pribadi memiliki waktu yang berbeda-beda. Menurutnya, baby blues merupakan fenomena biologis yang wajah bagi ibu pasca melahirkan dan hanya dengan pendampingan orang-orang terdekat bisa terselesaikan. Sedangkan, depresi postpartum adalah kondisi depresi yang perlu pendampingan psikiater profesional.

Baca Juga:
Bahasa Arab dan Ekosistem Keilmuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang: Menjaga Warisan, Merawat Keunggulan

Elok juga menuturkan bahwa perlu adanya sosialisasi kepada orang tua yang akan memiliki anak, tidak hanya sang istri. Menurutnya, suami adalah boundaries atau tameng yang membuat istri melalui fase baby blues lebih cepat.

"Berapa lama? ini gak bisa dipastikan kepada masing-masing individu, itu bisa berbeda-beda tingkat keparahan dari depresinya tapi kalau udah depresi, ya sudah berat tanda-tandanya itu. Kalau baby blues itu dianggap sebagai fenomena yang normal, biasa, sebagian besar orang, itu fenomena yang wajar," jelas Elok.

Elok menjelaskan bahwa ketika ibu melahirkan, ia melahirkan dua hal, yakni bayi dan identitas seorang ibu. Perubahan identitas secara langsung tersebut, tidak semua orang dapat langsung menerimanya.

"Perlu kemudian sosialisasi kepada pasangan yang mau punya anak, tidak boleh hanya istri karena suami adalah tameng atau pahlawannya untuk kemudian si istri itu bisa melewati baby bluesnya dengan lebih cepat," ungkap elok.(*)