KETIK, PACITAN – Musim kemarau yang mulai melanda sejumlah wilayah di Indonesia perlahan mulai dirasakan di Kabupaten Pacitan. 

Satu lokasi lahan pertanian di wilayah Desa Cangkring, Kecamatan Ngadirojo tercatat terdampak kekurangan air dan berpotensi mengalami puso.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan Pacitan, Sugeng Santoso, mengatakan hingga saat ini dampak kemarau terhadap sektor pertanian masih relatif kecil. 

Hal itu lantaran sebagian besar petani tengah memasuki masa panen padi dan mulai beralih ke komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.

"Sementara laporan yang masuk baru satu lokasi di daerah Cangkring karena jauh dari sumber air, dengan luas sekitar 0,1 hektare," kata Sugeng Santoso, Selasa, 21 Juli 2026.

Baca Juga:
Ditandai Pelepasan Ratusan Tukik, Gelar Peralatan Jatim 2026 di Pancer Door Pacitan Dibuka

Menurut Sugeng, lahan yang terdampak tersebut direncanakan akan dimasukkan dalam kategori puso atau gagal panen pada periode penilaian kali ini. 

Kendati demikian, kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap produksi pertanian secara keseluruhan di Kabupaten Pacitan.

"Untuk yang lain, sementara petani mengalihkan tanamannya ke komoditas jagung, kacang, dan kedelai karena kondisi air yang mulai berkurang. Rencananya untuk periode ini yang di Cangkring masuk puso," ujarnya.

Ia menjelaskan, momentum panen yang berlangsung pada Juli menjadi salah satu faktor yang membuat dampak kemarau belum terlalu terasa. 

Baca Juga:
Setia di Depan Pasar Minulyo Pacitan, Jajat Raup Jutaan Rupiah dari Umbul-umbul Setiap Agustus

Kebutuhan air untuk tanaman padi saat memasuki masa panen juga jauh lebih sedikit dibandingkan fase pertumbuhan.

"Intinya, alhamdulillah minggu-minggu ini memang masa panen sehingga tidak banyak membutuhkan air untuk komoditas padi," jelasnya.

Selain itu, Sugeng menyebut petani di Pacitan telah memiliki pola tanam yang menyesuaikan kondisi musim. 

Setelah panen padi, sebagian besar petani mulai beralih ke tanaman palawija dan komoditas perkebunan yang dinilai lebih adaptif terhadap musim kemarau.

"Petani mulai beralih ke palawija dan perkebunan. Ini menjadi salah satu upaya adaptasi ketika ketersediaan air mulai berkurang," katanya.

Meski baru satu lokasi yang dilaporkan terdampak, DKPP Pacitan mengaku terus melakukan pemantauan terhadap sejumlah wilayah yang selama ini dikenal rawan kekeringan. 

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya lahan terdampak apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Sebagaimana diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi sejumlah wilayah di Jawa Timur berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang pada tahun 2026 akibat pengaruh fenomena iklim global.

Namun demikian, pemerintah daerah optimistis sektor pertanian di Pacitan masih cukup aman, terutama karena pola tanam masyarakat yang mulai menyesuaikan dengan kondisi cuaca.

"Yang terpenting, petani sudah mulai mengantisipasi dengan beralih ke tanaman yang kebutuhan airnya lebih rendah. Mudah-mudahan musim kemarau tahun ini tidak terlalu panjang sehingga tidak banyak lahan yang terdampak," pungkas Sugeng.(*)