KETIK, MALANG – Kelurahan Cemorokandang, Kota Malang menggelar Grebek Suro 2026 sebagai bentuk rasa syukur dalam memperingati Tahun Baru Islam 1 Suro atau 1 Muharram 1448 Hijriah. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026 di Kantor Kelurahan Cemorokandang.

Satu Suro atau 1 Muharram menjadi salah satu hari besar yang diperingati umat Islam, khususnya di Indonesia. Di sejumlah daerah, peringatan ini juga diwarnai tradisi dan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satunya di Kelurahan Cemorokandang, Kota Malang, yang setiap tahun menggelar Grebek Suro sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal.

“Ini kegiatannya untuk meramaikan warga di sini, khususnya Cemorokandang. Kami ingin mengembalikan suasana seperti dulu. Setiap tahun, istilahnya wayang harus tetap ada,” ungkap Ketua Panitia Grebek Suro 2026, Darmayudi.

Grebek Suro 2026 menghadirkan tiga rangkaian acara utama. Kegiatan diawali dengan pengajian pada sore hari, dilanjutkan dengan Sedekah Bumi berupa kirab tumpeng dari seluruh wilayah, dan ditutup dengan penampilan spesial wayang kulit bersama dalang Ki Bayu Sasongko, S.Sn dari Sanggar Seni Suko Budoyo, Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Baca Juga:
FH UB dan KemenHAM Gelar Uji Publik RUU HAM, Target Harmonisasi Rampung Juli–Agustus 2026

Dalam rangkaian Sedekah Bumi, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat turut hadir bersama masyarakat Cemorokandang. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga dari 11 RW.

Tradisi Sedekah Bumi menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT atas kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah. Rasa syukur tersebut diwujudkan melalui tumpeng yang dibawa masing-masing wilayah.

“Nanti ada tumpeng di situ. Ada 11 tumpeng dari tiap RW, dari tiap wilayah di Cemorokandang mengeluarkan tumpengnya sendiri-sendiri. Juga dari petani-petani yang sawah atau tegalnya luas ikut mengeluarkan tumpeng tadi. Rasa syukurnya dari hasil panen, niatnya itu sedekah bumi,” ujar Darmayudi.

Selain sebagai ungkapan syukur, Grebek Suro juga dimaknai sebagai doa bersama agar wilayah Cemorokandang dijauhkan dari bala dan musibah, serta masyarakat, khususnya para petani, diberi kemakmuran.

Baca Juga:
Dari Duta Koperasi hingga Nakhoda Baru KKMP Cemorokandang: Rekam Jejak Kiagus Firdaus Membumikan Ekonomi Kerakyatan

“Istilahnya supaya Cemorokandang selamat, dijauhkan dari bala dan musibah. Petani-petaninya nanti bisa makmur, kalau sedekah bumi itu,” jelasnya.

Darmayudi menyampaikan, kegiatan ini rutin digelar setiap tahun sebagai upaya melestarikan budaya Jawa yang sejak dahulu identik dengan pertunjukan wayang kulit. Namun, penampilan wayang kulit dilaksanakan dua tahun sekali dan diselingi dengan agenda karnaval.

Untuk tahun ini, pertunjukan wayang dipersiapkan secara khusus dengan kembali menghadirkan dalang Ki Bayu Sasongko dari Kabupaten Malang. Menurut Darmayudi, setiap dua tahun sekali pihak panitia memang rutin mengundang dalang tersebut untuk memeriahkan Grebek Suro.

Tumpeng dari seluruh RW di kawasan Cemorokandang untuk acara Sedekah Bumi pada kegiatan Grebek Suro 2026. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

Melalui penyelenggaraan Grebek Suro 2026, Darmayudi berharap masyarakat Cemorokandang mendapatkan hasil panen yang melimpah, rezeki yang lancar, serta terhindar dari berbagai musibah. Ia juga berharap tradisi ini tetap lestari dan diteruskan oleh generasi muda di masa mendatang.

“Harapannya untuk warga Cemorokandang, panennya bisa melimpah, aman, rezekinya banyak, dan dijauhkan dari musibah,” tutupnya.