KETIK, BATU – Kenaikan harga kedelai impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah mulai menekan pelaku usaha tempe rumahan di Kota Batu.
Sejumlah pengrajin di Desa Beji bahkan terpaksa mengurangi produksi hingga memperkecil ukuran tempe demi mempertahankan usaha mereka.
Salah seorang produsen tempe, Cak Met, mengatakan, situasi yang dihadapi pelaku usaha kecil saat ini semakin berat.
Menurutnya, lonjakan harga kedelai impor membuat perputaran modal harian para pengrajin menjadi terganggu.
“Pengrajin kecil sekarang benar-benar berat. Banyak yang akhirnya tidak bisa produksi setiap hari karena modal usaha sudah semakin terbatas,” ujarnya, Senin, 25 Mei 2026.
Baca Juga:
Di Tengah Kasus Jual Beli Kios, Eks Kepala UPT Pasar Among Tani Pilih Pensiun DiniIa menjelaskan, sebagian pengrajin hanya bisa memproduksi tempe ketika memiliki cukup uang untuk membeli bahan baku. Kondisi tersebut membuat aktivitas produksi menjadi tidak menentu.
“Kadang bisa produksi kalau ada modal, kadang harus berhenti dulu. Situasinya sekarang benar-benar serba sulit,” katanya.
Menurut Cak Met, tekanan paling besar dirasakan pelaku usaha berskala kecil yang mengandalkan modal harian.
Sementara produsen dengan modal besar dinilai masih lebih mampu bertahan di tengah kenaikan harga bahan baku.
Baca Juga:
Wakil Ketua DPRD Kota Batu: Efisiensi Ekstrem Bisa Hambat Ekonomi“Kalau pengrajin kecil mulai kesulitan, produsen besar biasanya masih bisa jalan bahkan menambah produksi untuk memenuhi pasar,” ungkapnya.
Ia menyebut harga kedelai impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.700 hingga Rp9 ribu per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp12 ribu per kilogram. Padahal, kebutuhan kedelai untuk produksi harian mencapai sekitar 40 kilogram.
“Kenaikannya cukup tinggi, sementara kebutuhan kedelai setiap hari juga banyak. Itu yang membuat biaya produksi melonjak,” tuturnya.
Meski sempat menuai protes dari pelanggan, sebagian konsumen mulai memahami kondisi yang dialami para pengrajin tempe rumahan.
Namun, pelaku usaha tetap khawatir apabila situasi ini berlangsung lama, semakin banyak pengrajin kecil yang tidak mampu bertahan.
“Kami berharap ada langkah dari pemerintah untuk membantu menstabilkan harga kedelai impor. Kalau terus begini, pengrajin kecil bisa banyak yang tutup,” katanya.
Kondisi tersebut juga dibenarkan Kepala Desa Beji, Deny Cahyono. Ia mengatakan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kedelai, tetapi juga bahan pendukung lain seperti plastik pembungkus yang ikut mengalami kenaikan.
Menurutnya, menaikkan harga jual tempe bukan pilihan mudah bagi pengrajin karena dikhawatirkan membuat konsumen beralih ke produk lain.
Karena itu, sebagian pengrajin memilih menyiasati kondisi dengan memperkecil ukuran tempe agar harga jual tetap terjangkau.
“Terpaksa ukurannya dikurangi supaya harga jualnya tetap sama. Kalau dulu panjangnya sekitar 25 sentimeter, sekarang menjadi sekitar 20 sampai 21 sentimeter,” jelasnya. (*)