KETIK, MALANG – Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Kota Malang pada 2025 menempati posisi ke-16 dari seluruh kota/kabupaten di Jawa Timur. Kondisi tersebut membuat Kota Malang tertinggal jauh dari Kota Surabaya yang kokoh di posisi pertama.

Berdasarkan data TKM 2025, Kota Malang memperoleh skor 59,08. Sementara itu, Kota Surabaya memimpin dengan skor 79,42, disusul Kabupaten Gresik dengan 67,04, dan Kota Madiun sebesar 64,88.

Pustakawan Muda Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang, Santoso Mahargono, menjelaskan bahwa skema penilaian kegemaran membaca tahun ini memiliki formulasi yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Jika formulasi penilaian pada 2023 hanya menggunakan indikator frekuensi membaca masyarakat, lalu pada 2024 ditambah dengan variabel belanja buku, maka pada 2025 formulasi penilaian diperluas secara komprehensif, meliputi tahap pra-membaca, saat membaca, hingga pascamembaca.

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI juga telah menyampaikan bahwa perubahan angka TKM ini tidak serta-merta menunjukkan adanya penurunan maupun kenaikan performa literasi. Sebab, saat ini terdapat perspektif baru dalam pengukuran yang dinilai lebih substantif.

Baca Juga:
Makin Melek Literasi, Kunjungan Perpustakaan Kota Batu Naik Drastis

Secara umum, TKM tidak hanya mengukur frekuensi dan durasi membaca masyarakat, tetapi juga minat, tujuan membaca, hingga ketersediaan bahan bacaan. Selain itu, pengaruh lingkungan terhadap minat baca, strategi memahami bacaan, diskusi literasi, serta ekspektasi terhadap dampak bacaan turut menjadi poin penilaian.

"Kemudian yang diukur juga mengenai perilaku. Nah, perilaku ini tentu akan mengukur misalkan jadwal membaca. Apakah dia itu persentasenya lebih banyak ke HP meskipun itu dalam posisi membaca atau ke buku cetak, atau buku digital ini juga diukur perilakunya," ujarnya, Sabtu, 16 Mei 2026.

Perilaku membaca juga mempertimbangkan jenis bacaan yang dipilih dengan kebutuhan dan minat masing-masing masyarakat. 

"Misal minatnya di sejarah, ya dia akan selalu membaca buku sejarah. Itu kan perilaku. Nah, itu juga diukur," katanya. 

Baca Juga:
Mahasiswa Keluhkan Toilet Perpustakaan UB, Campur dan Kurang Privasi

Di sisi lain, perbedaan lokasi membaca turut memengaruhi penilaian. Masyarakat yang cenderung membaca buku di rumah biasanya berada dalam kondisi santai. Sebaliknya, aktivitas membaca di perpustakaan umumnya didorong oleh kebutuhan spesifik, seperti menyelesaikan tugas.

"Berikutnya, ajakan. Apakah dia membaca itu juga mengajak orang lain, ini juga diukur. Apakah dia membaca ini kolaborasi. Jadi komponennya memang total seluruhnya itu berkaitan dengan kegiatan membaca," lanjutnya. 

Dorongan terhadap kegemaran membaca masyarakat di Kota Malang juga terbantu oleh menjamurnya komunitas literasi yang aktif menggelar lapak baca maupun ruang diskusi. 

Tren ini kian diperkuat dengan kehadiran kafe-kafe yang menyediakan pojok baca khusus dengan koleksi buku yang dapat diakses bebas oleh pengunjung. 

"Tidak mengalami penurunan karena formulasi perhitungan berbeda dengan 2024. Ini berbeda antara gemar membaca dan minat membaca, kalau minat kan dia hanya minat, bukan menggemari. Dilihat dari perilaku juga, ada yang suka pinjam ke perpustakaan, tukar dengan teman, atau membeli," ungkapnya.(*)