KETIK, SUMENEP – Warga Madura yang bergelar Profesor tidak sedikit jumlahnya. Rata-rata kini berjuang di luar Pulau Garam, baik bekerja di lembaga dan institusinya hingga menjadi pejabat yang mengabdi untuk bangsa.
Kendati tidak tinggal menetap di Madura, para guru besar yang diakui keahliannya tersebut tentu tidak melupakan tanah kelahirannya.
Terbukti, dalam suatu malam di Surabaya, tepatnya pada Minggu, 26 April 2026, dua profesor yakni Prof Mahfud MD dan Prof Abd A'la Basyir bertemu. Keduanya saling berbincang ditemani kopi panas di meja.
Yang dibahas pun beraneka ragam, mulai dari cerita selama di Madura, pekerjaan dan kesibukannya masing-masing hingga bahasan tentang upaya memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pertemuan dua tokoh bangsa itu menjadi sinyal dan angin segar, bahwa meski usia keduanya sudah tidak muda lagi, namun masih menyempatkan untuk bersua dan bersilaturahmi.
Baca Juga:
Hari Otoda 2026, Pemkot Surabaya Tekankan Efisiensi Anggaran dan Percepat Layanan DigitalProf Abd A'la, pria asal Sumenep ini mengaku sekadar ngopi bersama Prof Mahfud asal Pamekasan. "Sekadar ngopi dan bersilaturahmi," ucap Prof Abd. A'la singkat kepada Ketik.com malam itu.
Meski berlangsung tidak terlalu lama, namun pertemuan tersebut sangat berarti. Tak sekadar duduk dan ngopi, namun juga tertuang gagasan-gagasan serta pemikiran matang dari kedua profesor ternama tersebut. (*)