KETIK, SIDOARJO – Jembatan Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, ditunggu-tunggu masyarakat. Jembatan penghubung Jalan Candinegoro dengan Yayasan Pendididikan Bachrul Ulum dan perkampungan sekitar itu mengalami keterlambatan (deviasi) 9 persen. Bupati Subandi mendesak jembatan Candinegoro tu selesai tepat waktu. Kontraktor pelaksana menyatakan mampu lebih cepat.

Permintaan Bupati Subandi itu disampaikan langsung kepada kontraktor pelaksana pembangunan jembatan Candinegoro dan Kepala Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (BM SDA) Sidoarjo M. Mahmud. Selasa siang (6 Oktober 2026), jembatan Candinegoro tersebut disidak (inspeksi mendadak). 

"Kami berharap pengerjaan ini selesai tepat waktu dengan kualitas bagus. Jika deviasi makin tinggi, mengejar ketertinggalannya akan semakin sulit," tegas Bupati Subandi saat berada di lokasi jembatan Candinegoro.

Inilah penampakan kondisi jembatan Candinegoro saat disidak Bupati Subandi pada Selasa (6 Oktober 2026). (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com).

Pejabat yang berlatar belakang pengusaha itu mengingatkan kontraktor pelaksana, Amrizal Hakim, dan M. mahmud bahwa batas waktu kontrak proyek tersebut 16 Desember 2026. Dia meminta pekerjaan deviasi dikejar. Semua pekerjaan dituntas. Di antaranya, mengerjakan fisik jembatan Candinegoro dengan dua shift pekerja. Sisa waktu hanya sekitar 2 bulan ke depan. Percepatan mutlak harus dilakukan. 

Baca Juga:
Sikapi Proyek Terlambat di Sidoarjo, Bupati Subandi Perintahkan Pejabat dan Pengawas Sering Sidak

‎Selain penambahan shift, Bupati Subandi juga menginstruksikan peningkatan frekuensi sidak dan koordinasi intensif antara konsultan dengan kontraktor. Jika deviasi terus membesar, Pemkab Sidoarjo bakal memanggil kontraktor untuk evaluasi total.

‎Menanggapi desakan Bupati Subandi, Pelaksana Proyek Jembatan Candinegoro Amrizal Hakim mengaku optimistis  mampu melaksanakan. Proyek jembatan senilai Rp1,4 miliar ini diyakini justru bisa rampung lebih awal. November 2026 sudah selesai.

Pekerja proyek jembatan Candinegoro bekerja hingga pukul 02.00 pada Selasa dini hari (6 Oktober 2026). (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

‎Demi mengejar keterlambatan, kontraktor pelaksana telah melakukan langkah-langkah percepatan. Deviasi semula sempat mencapai 14 sampai 23 persen. Namun, keterlambatan bisa dikejar menjadi 9 persen. 

Baca Juga:
Dibantu Jaringan Gas Gratis, Masyarakat Sidoarjo Hemat sampai 40 Persen

‎"Kami telah menambah jumlah pekerja dari 8 orang menjadi 18 orang. Memberlakukan pengerjaan hingga malam hari (dua shift). Kami juga mempercepat pengerjaan struktur abutment dan fabrikasi baja," jelas Amrizal.

‎Dengan berbagai langkah taktis tersebut, pihak pelaksana menarget deviasi 9 persen dapat terkejar sepenuhnya dalam dua pekan ke depan. 

Mengapa pengerjaan terlambat? Amrizal menerangkan, keterlambatan di awal pengerjaan disebabkan oleh kondisi geografis. Saat itu, aliran air di dua sungai lokasi jembatan begitu deras. Padahal, pengerjaan jembatan Csndinegoro memerlukan pengalihan aliran sungai. 

Selain itu, lanjut Amrizal, lapisan tanah bawah tanah yang berpasir. Kondisi itu menyulitkan pemancangan tiang. Perlu alat yang lebih besar saat pemancangan. 

"Pelaksana harus mengganti alat pemancang dengan kapasitas yang lebih besar," tambah Amrizal. (*)