KETIK, MALANG – Keberadaan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) turut mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi salah satu partai dengan basis massa yang kuat di Kota Malang. Sebelum tragedi 1965, Gerwani aktif bergerak di kawasan perkotaan dan memiliki titik konsolidasi di area yang kini dikenal sebagai Kayutangan Heritage.

Sejarawan Malang, Agung H. Buana, menjelaskan posisi Kota Malang cukup strategis dalam percaturan politik pascapemilu tahun 1955. Pada sekitar tahun 1960-an, PKI banyak menggelar rapat, pawai, maupun pengumpulan massa di Kota Malang yang diikuti oleh organisasi sayapnya, termasuk Gerwani.

"Gerwani di Malang waktu itu mempunyai peran penting karena harus diakui bahwa keberadaan organisasi perempuan di Malang itu cukup maju. Artinya, dibanding dengan kota-kota sekitarnya, gerakan perempuan itu cenderung mempunyai nuansa tersendiri, lebih maju, lebih terdidik, dan lain-lain. Termasuk juga keberadaan Gerwani di Malang," ujarnya, Rabu 30 September 2026.

Untuk memobilisasi massa, Gerwani membangun markas di kawasan Kayutangan. Bangunan tersebut kini difungsikan sebagai Toko Mesin Jahit Singer di lantai dasar dan Kantor HMI Cabang Malang di lantai dua. Di gedung itulah para aktivis Gerwani berkonsolidasi, menyusun strategi, dan menyatukan persepsi untuk memperjuangkan isu-isu akar rumput.

"Gerwani di Malang kebanyakan bergerak di isu domestik masyarakat. Misalnya pemberantasan buta huruf, pemberdayaan ekonomi, termasuk menentang poligami, juga ketersediaan sandang pangan. Itu adalah isu-isu yang mereka produksi. Mereka punya aktivitas tinggi dan cukup aktif bergerak," lanjutnya.

Baca Juga:
Gubernur Khofifah Imbau Warga Jatim Kibarkan Bendera Setengah Tiang Kenang G30S

Agung menyebutkan pergerakan Gerwani, PKI, serta organisasi underbow-nya tidak hanya berfokus di Kayutangan. Terdapat beberapa markas maupun tempat berkumpulnya tokoh-tokoh PKI di Kota Malang.

"Kebanyakan justru berada di tengah kota, seperti kawasan Kayutangan. Itu minimal ada tiga atau empat titik yang menjadi lokasi bertemunya mereka dan bisa menjadi kantor-kantor yang mempunyai afiliasi ke PKI," katanya.

Di Kayutangan sendiri, gedung yang kini menjadi Mall Sarinah juga sempat menjadi saksi sejarah pertemuan PKI di Kota Malang. Selain itu, beberapa titik di Kauman serta lokasi yang kini menjadi Kantor DPRD Kota Malang disebut pernah dijadikan tempat berkumpulnya massa PKI.

"Tahun 1965 kan bukan Gedung DPRD Kota Malang. Sebelumnya di situ sejak zaman Belanda dipakai untuk sekolahan. Ruangannya pernah dipakai untuk pertemuan para seniman PKI. Tapi itu masih perlu penelusuran lebih lanjut," tuturnya.

Baca Juga:
Rumah Warga hingga Pasar Talun, Jejak Syuting Yo Wis Ben yang Tersimpan di Kampoeng Heritage Kajoetangan

Permasalahan sosial-budaya seperti hiperinflasi dan mandeknya aktivitas perekonomian yang diusung dalam kampanye-kampanye PKI berhasil menarik simpati masyarakat perkotaan. Hal inilah yang membuat jumlah simpatisan PKI di Kota Malang semakin meningkat.

"Jadi rakyat secara umum seolah-olah bisa melihat bahwa isu yang dibawa oleh PKI tadi seiring dengan apa yang mereka rasakan. Termasuk isu-isu kesetaraan sangat berkaitan erat dengan masyarakat Malang yang well-educated. Karena di struktur PKI maupun organisasi underbow, tidak melihat kasta, perbedaan sosial ekonomi masyarakat tidak tercermin sehingga ada kesetaraan," jelasnya.

Sayangnya, meletusnya peristiwa G30S yang diikuti oleh proses pembersihan aktivis maupun simpatisan membuat banyak dokumen dan arsip terkait gerakan PKI beserta underbow-nya dikuasai oleh militer. Militer dan pemerintah saat itu turut menghapus jejak-jejak progresivitas Gerwani maupun PKI secara umum.

"Jadi, kita menyebutnya kan tahanan politik ya, yang memang data-datanya ada di militer. Banyak penangkapan-penangkapan Gerwani dan dimasukkan ke Penjara Lowokwaru maupun penjara perempuan lainnya," pungkasnya.(*)