KETIK, MADIUN – Martha Amalia Iflahah (34), istri sah Dwi Bagus Martono alias Kaji Tono, akhirnya buka suara terkait kasus pembunuhan terhadap istri siri suaminya, DH (30), dan anaknya, AG (4).
Martha mengaku tidak mengetahui hubungan suaminya dengan korban maupun peristiwa pembunuhan tersebut sebelum mendapat pengakuan langsung dari Kaji Tono pada 10 Oktober 2026.
Didampingi kuasa hukumnya, Arif Purwanto, SH., Martha menyampaikan keterangannya dalam konferensi pers di Hotel Mercure Madiun, Senin, 2 November 2026.
Martha menjelaskan, selama ini dirinya tidak mengetahui bahwa suaminya memiliki perempuan lain hingga menjalin pernikahan siri. Ia baru mengetahui hal tersebut setelah Kaji Tono bercerita secara langsung.
"Jadi awalnya saya mengetahui (hubungan) dari pengakuan suami saya sendiri itu pada tanggal 10 Oktober 2026, sebelumnya saya juga tidak tahu menahu. Dia bercerita bahwa dia mempunyai wanita lain dan sudah menikah siri. Lalu dia bilang kalau istri sirinya itu hilang dan sudah dilaporkan ke Polres Madiun Kota juga," jelasnya.
Baca Juga:
Kabar Baik! Job Fair Inklusif 2026 Dibuka Secara Virtual, Cek Cara DaftarnyaIa mengaku masih berusaha mencerna pengakuan tersebut karena tidak menyangka suaminya membangun hubungan lain di tengah rumah tangga mereka.
"Pada saat itu juga saya juga masih mencerna perkataan dia bahwasannya ia membangun hubungan lain di atas rumah tangga kami. Dia menceritakan itu di teras belakang rumah," imbuhnya.
Martha juga membantah asumsi yang berkembang bahwa dirinya telah mengetahui hubungan Kaji Tono dengan korban sebelum pengakuan tersebut disampaikan.
"Jadi saya sampaikan terkait asumsi yang beredar di luar bahwa saya sebelumnya sudah mengetahui hubungan suami saya dengan korban itu tidak benar. Saya tau juga setelah suami saya bercerita pada 10 Oktober 2026 itu," katanya.
Baca Juga:
Kaji Tono, Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Kota Madiun Baru Pulang Naik Haji Tahun 2025Ia bahkan masih mengingat waktu dan suasana ketika suaminya menyampaikan pengakuan tersebut.
"Saya ingat harinya itu hari Sabtu waktunya habis maghrib lokasinya ada di teras belakang rumah. Dia bercerita sambil menangis dan bersujud serta meminta maaf kepada saya," tambahnya.
Martha juga menjelaskan bahwa ketika Kaji Tono melaporkan orang hilang pada 5 Oktober 2026, suaminya meminta agar persoalan tersebut tidak dipublikasikan terlebih dahulu karena dirinya belum mengetahui hubungan pernikahan siri tersebut.
"Pada saat suami saya melaporkan orang hilang pada 5 Oktober 2026 itu, dia meminta agar jangan di blow up dulu karena saya (istri sah) belum mengetahui tentang hal ini. Disaat itu dia juga menyewa pengacara untuk orang hilang itu, suami saya juga menyampaikan hal yang sama. Semua itu dapat diverifikasi kebenarannya kepada yang bersangkutan," jelasnya.
Selain membantah mengetahui hubungan suaminya dengan korban, Martha juga menjelaskan soal pembangunan tungku pembakaran dan pembelian mesin penggiling yang sempat menjadi perhatian dalam kasus tersebut.
Ia mengaku tidak menaruh kecurigaan ketika suaminya melakukan aktivitas tersebut karena tidak pernah terlibat dalam kegiatan suaminya di bagian belakang rumah.
"Saya tidak menaruh kecurigaan sama sekali, karena setiap suami saya berkegiatan di belakang itu saya tidak pernah join. Yang saya tahu hanya mesin penggiling itu datang diantarkan dan saya juga tidak tanya itu untuk apa, bagaimana penggunaannya. Kemudian mesin penggiling itu dikeluarkan saya juga membukakan pintu juga orang yang dimintai tolong," paparnya.
Terkait pembangunan tungku pembakaran, Martha mengatakan dirinya mengetahui keberadaan tungku tersebut karena mengenal orang yang mengerjakannya.
Saat bertanya kepada suaminya mengenai tujuan pembangunan tungku, ia mendapat jawaban bahwa tempat itu digunakan untuk membakar sampah.
"Kemudian terkait tungku pembakaran, saya tau itu dibuat karena kebetulan saya kenal dengan tukangnya. Lalu saya tanya untuk apa membangun itu katanya untuk membakar sampah, sudah hanya itu. Karena memang di rumah dia (suaminya) itu rajin bersih-bersih, kemudian potong-potong tanaman itu memang berakhir dibakar," ungkapnya.
Martha mengaku sangat terpukul setelah mengetahui suaminya terlibat dalam kasus pembunuhan yang menghilangkan nyawa dua orang tersebut.
Ia menyebut peristiwa itu menjadi pukulan berat baginya, bukan hanya karena pengkhianatan dalam rumah tangga, tetapi juga karena harus menghadapi persoalan hukum yang besar.
"Kalau dibilang marah, sedih itu pasti. Karena saya merasa semua itu tiba-tiba hadir, tiba-tiba terjadi dalam hidup saya. Bukan hanya luka penghianatan, tapi saya juga dihadapkan dengan kasus yang sangat besar ini," tuturnya.
Martha mengatakan saat ini berusaha menenangkan diri, tetap kooperatif dengan kepolisian selama proses penyelidikan, serta mendorong suaminya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Selain menenangkan diri, saya juga berusaha untuk kuat dan kooperatif dengan kepolisian untuk penyelidikan. Dan untuk mendampingi suami saya agar berani bertanggung jawab atas yang ia perbuat," pungkasnya.(*)