KETIK, BOGOR – Bagi sebagian orang, kunang-kunang identik dengan kenangan masa kecil. Bahkan di sejumlah daerah, hewan kecil yang bercahaya di malam hari ini kerap mendapat sejumlah mitos. Seperti kuku orang mati dan sebagainya.

Terlepas dari hal itu, kunang-kunang kini makin dirindukan. Sebab, kehadirannya terasa semakin langka pada zaman ini. 

Kelestarian kunang-kunang tidak hanya bergantung pada kawasan hutan atau area konservasi. Masyarakat juga dapat berperan menjaga populasi serangga bercahaya tersebut melalui berbagai langkah sederhana di lingkungan sekitar.

Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Upik Kesumawati Hadi, mengatakan keberlangsungan hidup kunang-kunang sangat bergantung pada kondisi habitatnya.

Menurutnya, kunang-kunang masih dapat ditemukan di kawasan yang memiliki kelembapan tinggi, minim polusi cahaya, dan bebas dari pencemaran lingkungan. Habitat tersebut antara lain kawasan mangrove, tepian sungai alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.

Baca Juga:
Kunang-Kunang Kian Langka, Polusi Cahaya dan Lampu LED Ancam Kelangsungan Hidupnya

"Masyarakat dapat ikut membantu menjaga populasi kunang-kunang dengan menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi serangga tersebut," ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi IPB, Sabtu, 20 Juni 2026. 

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menghindari menutup seluruh halaman rumah dengan semen atau beton. Area tanah terbuka dapat membantu menjaga kelembapan lingkungan yang dibutuhkan berbagai organisme, termasuk kunang-kunang.

Selain itu, masyarakat juga disarankan mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang pada malam hari. Pengendalian cahaya buatan dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengurangi gangguan terhadap aktivitas kunang-kunang.

Penggunaan pupuk organik dan pengurangan insektisida kimia juga menjadi langkah yang dianjurkan. Cara tersebut dapat membantu menjaga kualitas tanah serta mengurangi risiko terganggunya rantai kehidupan berbagai serangga.

Baca Juga:
Kunang-Kunang Kian Langka, Pakar Sebut Jadi Indikator Kerusakan Lingkungan

Tak kalah penting, masyarakat perlu menjaga kebersihan sungai dan saluran air agar tidak tercemar. Lingkungan perairan yang sehat akan mendukung keberlangsungan habitat berbagai organisme yang saling terhubung dalam ekosistem.

Prof Upik mengingatkan bahwa jika kerusakan habitat dan polusi cahaya terus berlangsung, generasi mendatang berpotensi hanya mengenal kunang-kunang melalui buku, museum, atau tayangan digital.

“Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkasnya. (*)