KETIK, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap hasil pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2026 yang menunjukkan adanya peningkatan gangguan kesehatan jiwa pada kelompok usia remaja, khususnya pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan, persoalan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi mulai banyak ditemukan pada kelompok usia SMP dan terus meningkat pada jenjang SMA.

"Mulai terlihat peningkatan masalah kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi, disertai meningkatnya risiko tuberkulosis (TB), peningkatan tekanan darah, dan masalah gizi," kata Budi Gunadi Sadikin dalam siaran pers, Jumat, 17 Juli 2026.

Selain gangguan kesehatan mental, hasil CKG juga menunjukkan bahwa karies gigi masih menjadi masalah kesehatan paling dominan di kalangan anak usia sekolah dan remaja.

Lebih dari 40 persen anak yang menjalani pemeriksaan diketahui mengalami karies gigi.

Baca Juga:
Kisah Abu bin Hasyim, Rajin Tahajud Selama 20 Tahun tapi Tak Masuk Golongan Kekasih Allah

Temuan lainnya mencakup anemia sebesar 27 persen, peningkatan tekanan darah sebanyak 21 persen, penumpukan kotoran telinga sebesar 7 persen, serta gizi lebih dan obesitas yang juga mencapai 7 persen.

Pada kelompok pelajar SMA, pola gangguan kesehatan mental tercatat semakin menguat.

Kemenkes juga menemukan peningkatan kasus tekanan darah tinggi, risiko tuberkulosis, serta permasalahan gizi yang kini menunjukkan tren seimbang antara gizi kurang dan obesitas.

Sementara itu, pada kelompok usia Sekolah Dasar (SD), masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan ialah karies gigi.

Baca Juga:
Kenapa Croissant Mirip Jembut yang Viral Tak Bisa Dapat Label Halal di RI, Ini Sebabnya

Temuan tersebut disusul peningkatan tekanan darah, gangguan status gizi, serta gangguan indra pendengaran dan penglihatan.

Menurut Budi, Indonesia kini menghadapi tantangan baru berupa double burden of malnutrition atau beban gizi ganda, yakni kondisi ketika gizi kurang dan gizi lebih terjadi secara bersamaan di masyarakat.

"Proporsi anak dengan gizi lebih atau obesitas kini semakin mendekati angka gizi kurang, menandakan Indonesia menghadapi double burden of malnutrition," ujarnya.

Tak hanya itu, hasil skrining pada bayi baru lahir juga menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap penyakit jantung bawaan kritis.

Hingga 28 Juni 2026, lebih dari 490 ribu bayi telah menjalani pemeriksaan menggunakan pulse oximetry.

Dari jumlah tersebut, sekitar 20.946 bayi atau 4,3 persen terindikasi mengalami kelainan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

"Hasil ini menunjukkan pentingnya kesiapan layanan jantung anak mulai dari deteksi dini, sistem rujukan, hingga kapasitas rumah sakit dalam menangani penyakit jantung bawaan," jelas Budi.

Kemenkes mencatat hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis.

Program yang mulai memasuki tahap pengobatan ini juga difokuskan untuk menangani penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus.

Budi menegaskan, data hasil CKG menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran berdasarkan kelompok usia.

"Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA," tandasnya.

Pemerintah berharap hasil pemetaan tersebut dapat memperkuat upaya pencegahan dan intervensi dini, terutama terkait kesehatan mental remaja yang kini mulai menjadi perhatian nasional.(*)