KETIK, PROBOLINGGO – Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Surabaya kembali menggelar reuni dan temu alumni bertajuk "Silaturrahmi Wali Santri dan Alumni Bersama Pengasuh" di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Pengasuh, KH. Zuhri Zaini pada Minggu, 26 Juli 2026.

Dalam tausiahnya, KH. Zuhri Zaini menjelaskan bahwa keanggotaan P4NJ tidak terbatas hanya untuk alumni. Ia mempersilakan siapa pun, termasuk yang bukan alumni atau bukan santri, untuk turut membantu sebagai pengurus P4NJ.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan pesan almarhum KH. Abdul Haq Zaini, bahwa santri yang telah kembali ke masyarakat diharapkan tidak mengotak-kotakkan atau membeda-bedakan sesama.

Pengasuh juga menegaskan bahwa lamanya seseorang mondok bukan tolok ukur kesantrian, melainkan amaliah keseharian yang menjadi penentu. "Kalau santri ketika di masyarakat jadi preman, bukan santri namanya, tapi alumni santri," ujarnya.

Baca Juga:
Pesan Kiai Zuhri Zaini: Mengapa Beragama Tak Cukup Hanya Modal Cerdas?

Ia berpesan agar para santri tidak meninggalkan wirid setelah kembali ke masyarakat, karena dikhawatirkan dapat menghilangkan jati diri kesantrian.

Selain itu, semangat belajar juga diharapkan terus dijaga, sebab menurutnya proses belajar tidak hanya berlangsung di sekolah atau pesantren, tetapi bisa dilakukan di mana saja.

Lebih lanjut, KH. Zuhri Zaini menekankan pentingnya menjaga identitas santri melalui Trilogi Santri dan Panca Kesadaran Santri.

Nilai-nilai filosofis dalam Panca Kesadaran Santri, katanya, mencerminkan norma yang relevan dengan ajaran agama sekaligus kehidupan sosial, di antaranya kesadaran untuk terus belajar dan mengajar, mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin), serta menempatkan ulama sebagai penjaga nilai-nilai keagamaan.

Baca Juga:
Ribuan Pengurus dan Dosen Pesantren Nurul Jadid Ikuti Halalbihalal

Nilai kemasyarakatan seperti berbuat baik, tolong-menolong, dan kepedulian terhadap sesama, lanjutnya, juga bernilai ibadah, termasuk semangat membela tanah air dari penjajahan yang termasuk kategori jihad.

Dalam kesempatan itu, Pengasuh turut menyinggung soal keikutsertaan dalam organisasi. Ia berpesan agar tidak sekadar memilih organisasi yang bersifat perkumpulan semata, melainkan yang memiliki tujuan, program, dan tugas yang jelas dalam koridor kebaikan.

Terkait Trilogi Santri, KH. Zuhri Zaini menjelaskan bahwa nilai-nilai tersebut seharusnya tetap melekat pada diri santri, khususnya berupa kesadaran penuh terhadap kewajiban, baik secara vertikal (kepada Allah) maupun horizontal (kepada sesama manusia).

Ia mencontohkan poin kedua Trilogi Santri, yakni kesadaran dan kewaspadaan terhadap dosa-dosa besar, sementara dosa-dosa kecil yang sulit dihindari dianggap wajar selama tidak dijadikan kebiasaan atau kesempatan. Dosa-dosa kecil tersebut, menurutnya, akan luruh seiring amaliah harian seperti shalat dan wudu.

KH. Zuhri Zaini mengingatkan bahwa ibadah tidak terbatas pada shalat dan puasa semata. Ia menyebut menyingkirkan batu dari jalan serta kegiatan silaturahmi seperti reuni tersebut juga termasuk ibadah.

Ia mengajak seluruh santri untuk tidak mengabaikan nilai-nilai kebaikan kecil yang kerap terlewatkan, serta meneladani sikap Nabi Muhammad saw yang mudah bergaul dengan masyarakat.(*)