KETIK, GRESIK – Langkah nyata peduli lingkungan ditunjukkan oleh kaum perempuan berkemajuan di Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, dalam perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 H. Menjawab tantangan darurat sampah plastik, Pimpinan Cabang ’Aisyiyah (PCA) Panceng menginisiasi sebuah gerakan perubahan melalui program "Green Idul Adha".

​Aksi hijau yang berpusat di Masjid Al-Amin, Desa Doudo, Kecamatan Panceng ini sukses menarik perhatian. Jika biasanya pendistribusian daging kurban identik dengan ribuan kantong plastik sekali pakai, ibu-ibu ’Aisyiyah kali ini memilih beralih total ke wadah tradisional: besek bambu yang dialasi daun jati.

​Ketua PCA Panceng, Lailatul Badriah, S.Ag., menegaskan bahwa ibadah kurban tidak hanya menjadi momentum untuk berbagi sesama manusia, tetapi juga harus selaras dengan semangat menjaga alam. Penggunaan besek dan daun jati ini merupakan bentuk ikhtiar konkret dalam menekan angka timbulan sampah plastik baru pasca-lebaran kurban.

​"Tahun ini kami berkomitmen penuh untuk membebaskan area kurban dari kantong plastik sekali pakai. Melalui program Green Idul Adha ini, PCA Panceng ingin mewujudkan perayaan hari besar yang tidak hanya bersih secara syariat, tetapi juga sehat dan berkelanjutan untuk lingkungan," ujar Lailatul Badriah

​Beliau menambahkan bahwa pemilihan besek dan daun jati bukan sekadar gaya-gayaan. "Besek bambu itu bisa dipakai ulang oleh warga di rumah, sementara daun jati memberikan proteksi alami agar daging tetap segar dan higienis tanpa zat kimia plastik," imbuhnya.

Baca Juga:
Milad ke-109 Aisyiyah Pemalang Soroti Pernikahan Dini hingga Kemiskinan

​Di balik suksesnya pembagian daging kurban ramah lingkungan ini, ada cerita menarik mengenai para kader perempuan Muhammadiyah tersebut. Guna memastikan pasokan wadah alami terpenuhi, ibu-ibu dari Pimpinan Ranting ’Aisyiyah (PRA) Doudo rela turun langsung memburu daun jati ke area perkebunan warga. Sinergi yang kuat antara pimpinan cabang dan ranting ini menjadi kunci utama kelancaran proses pemotongan hingga pengemasan daging.

​"Sebelum hari-H pendistribusian, kami ibu-ibu berbondong-bondong pergi ke kebun jati. Kami menyusuri kebun, dengan telaten memilah dan mengumpulkan daun jati yang ukurannya lebar dan kualitasnya terbaik," cerita salah satu perwakilan pengurus PRA Doudo, Iis Rofidah penuh semangat.

​Menurutnya, meski proses mencari daun langsung ke alam membutuhkan tenaga ekstra dibanding sekadar membeli kantong plastik kiloan di pasar, rasa lelah itu hilang karena ada kepuasan tersendiri bisa berkontribusi menjaga bumi.

​"Daun-daun yang sudah terkumpul lalu kami bersihkan satu per satu dengan kain bersih sebelum ditata menjadi alas besek. Kami ingin memastikan apa yang diterima masyarakat benar-benar bersih dan pantas," pungkasnya.

Baca Juga:
Panitia Iduladha 1447 H Diminta Hindari Kresek, DLH Sleman Dorong Penggunaan Besek dan Daun Jati untuk Wadah Daging Hewan Kurban

​Langkah inovatif dan penuh ketelatenan dari PCA Panceng bersama PRA Doudo ini diharapkan mampu menjadi pemantik kesadaran bagi warga ’Aisyiyah di Kecamatan Panceng dan komunitas lain di wilayah Gresik Utara untuk mulai menerapkan konsep kurban minim sampah (zero waste) di masa mendatang. (*)