KETIK, MALANG – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) menggelar pengabdian kepada masyarakat di SDN 1 Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Kegiatan yang mengusung tema “Pemahaman Siswa Sekolah Dasar terhadap Berbagai Kondisi Hewan pada Lingkungan Masyarakat” ini berada di bawah koordinasi dan supervisi drh. Ida Bagus Gde Rama Wisesa, M.Si., atau yang akrab disapa drh. Rama.

Dalam pelaksanaannya, drh. Rama bersama lima mahasiswa FKH UB, yaitu Michelle Irene Febe Simamora, Aurell Varda Lilian, Hanifa Argiani, Aurora Fildzafirah, dan Ayunisa Sabrina Mardiyah yang menyiapkan materi serta aktivitas edukatif yang sesuai dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar.

FKH Universitas Brawijaya mengedukasi siswa SDN 1 Kalisongo terkait hewan sakit dan mencegah zoonosis. (Foto: Dok. Ketik.com)

Program ini bertujuan mengenalkan kondisi hewan sehat dan sakit, cara berinteraksi dengan hewan secara aman, serta langkah sederhana untuk mencegah penyakit yang dapat menular antara hewan, manusia, dan lingkungan.

Baca Juga:
FBiPK UB Mulai Pengabdian Kampung Lingkar Kampus, Kenalkan Laboratorium Pendidikan Terpadu

Seluruh materi disampaikan secara interaktif melalui video edukasi, diskusi, tanya jawab, simulasi, dan praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS.

Kenalkan Tanda Klinis Rabies melalui Video Edukasi

Salah satu materi utama yang diberikan adalah pengenalan tanda klinis rabies pada anjing melalui media video. Siswa diajak mengenali beberapa perubahan yang perlu diwaspadai, seperti perilaku agresif yang tidak biasa, air liur berlebihan, kesulitan menelan, serta perubahan perilaku secara mendadak.

Siswa juga diberikan pemahaman agar tidak mendekati atau mengganggu anjing yang menunjukkan perilaku mencurigakan. Apabila menemukan kondisi tersebut, mereka dianjurkan segera melapor kepada orang tua, guru, atau orang dewasa di sekitarnya.

Baca Juga:
UB Raih Posisi Pertama! Ini Daftar 10 Kampus Terbaik di Jawa Timur 2026 Versi UniRank

FKH Universitas Brawijaya mengedukasi siswa SDN 1 Kalisongo terkait hewan sakit dan mencegah zoonosis. (Foto: Dok. Ketik.com)

Menurut drh. Rama, pengenalan rabies sejak dini penting karena anak-anak cukup sering berinteraksi dengan hewan di lingkungan tempat tinggalnya.

Edukasi tidak bertujuan membuat siswa takut terhadap hewan, tetapi membantu mereka mengenali kondisi yang tidak normal dan mengambil tindakan yang aman.

Terapkan PHBS untuk Mencegah Infeksi Cacing dan Scabies

Materi berikutnya membahas pencegahan infeksi soil-transmitted helminth atau STH, yaitu kelompok cacing yang penularannya berkaitan dengan tanah yang telah terkontaminasi.

Siswa diperkenalkan pada beberapa perilaku berisiko, seperti bermain tanah tanpa alas kaki, tidak mencuci tangan sebelum makan, serta kurang menjaga kebersihan kuku dan makanan.

Melalui praktik mencuci tangan, siswa diajak membiasakan penggunaan sabun dan air mengalir, memakai alas kaki ketika bermain di luar rumah, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Penerapan PHBS juga dikaitkan dengan pencegahan scabies, yaitu gangguan kulit yang dapat terjadi pada hewan dan dalam kondisi tertentu dapat menular kepada manusia.

Siswa dikenalkan pada tanda-tanda yang perlu diperhatikan, seperti rasa gatal berlebihan, kerontokan rambut, kemerahan, luka pada kulit, dan kebiasaan hewan menggaruk secara terus-menerus.

Siswa dianjurkan untuk tidak langsung menyentuh hewan yang menunjukkan gangguan kulit dan segera mencuci tangan setelah berinteraksi dengan hewan.

Belajar Hidup Berdampingan dengan Hewan secara Aman

Selain mengenalkan penyakit, kegiatan ini juga mengajarkan cara hidup berdampingan dengan hewan di lingkungan masyarakat. Siswa diajak memahami bahwa setiap hewan memiliki perilaku, kebutuhan, dan respons yang berbeda sehingga harus diperlakukan dengan tepat.

Mereka diingatkan untuk tidak menarik ekor, mengganggu hewan yang sedang makan atau tidur, mendekati induk yang sedang menjaga anaknya, maupun menyentuh hewan yang tidak dikenal tanpa pengawasan orang dewasa.

Edukasi tersebut tidak hanya bertujuan mencegah gigitan atau cakaran, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan. Menyayangi hewan perlu dilakukan dengan tetap menghormati ruang gerak dan kondisi hewan tersebut.

Mengenal Penyakit Mulut dan Kuku pada Ternak

Tidak hanya membahas hewan kesayangan, siswa juga memperoleh pengetahuan mengenai Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK pada ternak. Beberapa tanda yang diperkenalkan meliputi air liur berlebihan, luka atau lepuh di sekitar mulut, pincang, gangguan pada kaki, dan penurunan nafsu makan.

Siswa diingatkan agar tidak memasuki kandang atau menyentuh ternak yang sakit tanpa izin dan pendampingan orang dewasa. Mereka juga dikenalkan pada pentingnya menjaga kebersihan tangan dan alas kaki setelah berada di sekitar kandang.

Tumbuhkan Kesadaran One Health sejak Dini

Pihak SDN 1 Kalisongo yang dipimpin oleh Bapak Toha, S.Pd. sebagai Kepala Sekolah, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut.

Materi yang diberikan dinilai relevan dengan kehidupan siswa yang cukup sering menjumpai hewan di lingkungan rumah maupun sekolah.

Melalui kegiatan ini, FKH UB berharap siswa mampu mengenali kondisi hewan yang tidak normal, berinteraksi dengan hewan secara aman, dan menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran tersebut sejalan dengan pendekatan One Health, yang menekankan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan. (*)