KETIK, SURABAYA – Film pendek berjudul MAYA hadir sebagai karya drama psikologis yang menyoroti tekanan sosial, pencitraan digital, dan krisis identitas yang kerap dialami remaja di era modern.

Film ini mengisahkan perjalanan Maya, seorang remaja perempuan yang terobsesi dengan kehidupan kelompok pertemanan elit yang tampak glamor dan penuh sorotan publik. Dorongan kuat untuk diterima di lingkungan tersebut mendorong Maya perlahan meninggalkan kehidupannya yang biasa demi mengejar pengakuan sosial yang ia impikan.

Titik balik dalam cerita dimulai ketika Maya tiba-tiba menjadi dikenal luas usai tampil dalam konten wawancara seorang influencer di media sosial. Popularitas yang datang secara mendadak itu membuka jalan baginya untuk masuk ke lingkaran sosial yang selama ini hanya bisa ia kagumi dari jauh. Namun, seiring waktu, kehidupan yang tampak sempurna di permukaan justru berubah menjadi beban emosional yang berat. Maya diduga mulai kehilangan jati dirinya sendiri karena terus berusaha memenuhi ekspektasi sosial yang ia bangun sendiri.

Konflik dalam film ini mencapai puncaknya ketika berbagai pencitraan dan kebohongan yang selama ini dipertahankan Maya akhirnya terungkap. Kondisi tersebut mengakibatkan Maya kehilangan kepercayaan dari orang-orang terdekatnya dan memaksanya berhadapan dengan kenyataan bahwa popularitas tidak selalu identik dengan kepedulian yang tulus.

Melalui alur cerita yang emosional dan penuh lapisan psikologis, MAYA berupaya menggambarkan realitas kehidupan remaja masa kini yang rentan terjebak dalam standar sosial buatan serta pencarian identitas diri. Film ini menyampaikan pesan penting mengenai penerimaan diri dan bahaya ketergantungan pada validasi publik, sebuah isu yang semakin relevan di tengah derasnya arus budaya media sosial.

Baca Juga:
Film Pendek 'MAYA': Potret Kelam Remaja yang Terjebak Toxic-nya Validasi Media Sosial

Di balik layar, film MAYA digarap oleh tim kreatif yang dipimpin Selivia Natalie sebagai produser dan Gloria Viorentia sebagai sutradara sekaligus editor offline. Naskah film ditulis oleh Wewish Angelique Gracechew bersama Jacklyn Wongsodiredjo, sementara posisi location manager dan assistant director diemban oleh Cealsy Fanza Mayzura.

Departemen sinematografi dipimpin Paul Owen selaku Director of Photography (DOP), didukung Jennifer Caroline dan Akaesa Fayyaza Karismawan di bagian gaffer, serta Treven Virgano Suparjo Putra sebagai asisten kamera. Tata artistik ditangani Ega Putra Hariyanto untuk tata rias dan wardrobe, bersama tim properti yang terdiri dari Diva Rizky Amalia Amaludin, Videlia Gracia Salim, dan Selivia Natalie.

Departemen suara dipercayakan kepada Ali Azhar Damarrosydi dan Edith Natania, sedangkan online editing serta color grading ditangani oleh Maulana. Cynthia Amara bertugas sebagai talent manager dan Naila Fira sebagai dokumentasi behind the scene.

Film ini dibintangi Kalinda Tara Opaline sebagai Maya, Shira Sanchia Aurelia sebagai Aubrey, Shannon Leannarly Himawan sebagai Bianca, Orleans Darrel Utomo sebagai Elvano, Geraldo Chandra sebagai Emil, Cleove Edricka Josse sebagai Listy, Junaidi Wirawan sebagai Papa Maya, serta Apri Prafitri sebagai Mama Maya.

Baca Juga:
Pemanasan Jelang 5th CFF 2026, Ratusan Pecinta Film Surabaya Tukar Ide di Nyabar Universitas Ciputra

Dengan mengangkat tema yang begitu dekat dengan keseharian generasi muda saat ini, MAYA diharapkan mampu menjadi cermin sosial sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga identitas diri di tengah tekanan lingkungan dan perkembangan era digital yang terus bergerak cepat. (*)