KETIK, SLEMAN – Ancaman kekeringan membayangi Kabupaten Sleman. Di prediksi musim kemarau jauh lebih panjang dari biasanya. Fenomena iklim El Nino terdeteksi menguat  mengancam kawasan ini hingga pengujung tahun. Laporan kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman yang merujuk Informasi Iklim BMKG DIY menegaskan bahwa curah hujan di wilayah ini masuk kategori amat rendah, hanya berkisar 0 hingga 20 milimeter per bulan sepanjang periode Juli hingga November 2026. Kondisi tersebut memaksa pihak berwenang menerbitkan status Siaga untuk peringatan dini kekeringan meteorologis.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, menegaskan bahwa angin monsun Australia yang membawa udara kering melintasi wilayah Yogyakarta tak terbendung sejak memasuki pertengahan tahun. Dinamika tersebut secara drastis mengacak-acak pola cuaca normal di Bumi Sembada.

"Fenomena El Nino, yaitu angin monsun Australia yang kering ini, semakin menguat. Yang kemarin lemah, menguat di bulan Agustus ini. Sampai dengan bulan Desember, El Niño diprediksi terus menguat, sehingga musim kemarau ini agak panjang," tegas Bambang Kuntoro, Selasa 11 Agustus 2026.

Kondisi ini berakibat mundurnya musim kemarau hingga September, sementara kedatangan musim hujan yang dinanti-nanti warga terancam mundur hingga akhir November atau awal Desember. Merespons ancaman tersebut, Pemkab Sleman mengambil langkah tegas dengan menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan terhitung sejak 1 Juli hingga 31 Agustus 2026 melalui Keputusan Bupati Sleman Nomor 53.1/Kep.KDH/A/2026.

Mobilisasi dan Sinergi Lintas Sektor

Menghadapi potensi tadi, BPBD Sleman memobilisasi kekuatan lewat apel siaga lintas sektoral bersama TNI, Polri, Basarnas, PMI, relawan, Damkar, Satpol PP, BMKG, BBPTKG, hingga Pengelola Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Langkah ini difokuskan untuk mengantisipasi lonjakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta permukiman warga yang sangat rentan terpicu cuaca ekstrem. Sinergi bersama dinas teknis seperti DPUPKP, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Sosial, BAPPEDA, BBWSSO, PDAM Tirtamarta, PMI, hingga BAZNAS melalui skema kemanusiaan "Sleman Peduli".

Bambang memaparkan dari 11 Kajian Risiko Bencana (KRB) di Sleman, ancaman kekeringan kini menjadi prioritas yang paling mendesak untuk ditangani. Evaluasi berkala terus dilakukan; jika situasi dalam dua bulan masa siaga ini makin memburuk, status bencana akan langsung dinaikkan menjadi Tanggap Darurat. Sebaliknya, jika dinamika di lapangan berhasil diredam, status Siaga Darurat akan diperpanjang.

Air Bersih dan Mitigasi Dampak Kemarau

Untuk menahan laju krisis air bersih warga, BPBD Sleman bergerak cepat membantu pasokan air (dropping) serta membongkar kendala teknis jaringan Pamsimas yang lumpuh. Upaya tadi telah digelontorkan ke wilayah Girikerto dan Wonokerto (Turi) yang pasokan airnya terputus akibat pipa hulu Sungai Krasak tertimbun longsoran tebing. Langkah serupa disalurkan ke  Sumbersari (Moyudan) akibat kerusakan sumur dalam serta pipa tersumbat lumpur, hingga wilayah Bribin (Kebon, Turi) yang debit mata airnya merosot drastis hingga tersisa sepertiga dari kapasitas normal.

Untuk mengamankan rantai distribusi air darurat, BPBD Sleman mengalokasikan anggaran khusus sebesar Rp25.000.000 (gabungan anggaran murni Rp12,5 juta dan usulan Anggaran Belanja Tambahan/ABT Rp12,5 juta) yang disetarakan dengan penyaluran 50 tangki air bersih berkapasitas masing-masing 5.000 liter.

"Kita berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan yang ada, Teman-teman relawan, kita jalan bersama. Kemudian kita juga mempersiapkan anggaran untuk dropping air, tapi sangat terbatas. Kurang lebih ada sekitar 25 juta yang kita siapkan. Kalau dikonversi ke tangki, berarti kalau satu tangki itu 500 ribu, berarti 50 tangki," tambah Bambang.

Di sektor pertanian wilayah Sleman Barat, pasokan irigasi bertahan relatif aman karena tidak ada penutupan Selokan Mataram maupun Van Der Wijck, kendati debit air dari Bendung Karangtalun mulai mengalami penurunan beruntun.

Kemarau panjang tak hanya memicu kekeringan dan ancaman kebakaran akibat kecerobohan membakar sampah, tetapi juga menyulut migrasi satwa liar ke kawasan permukiman. Menanggapi fenomena ini, BPBD Sleman menyiagakan tim 24 jam penuh untuk menggelar Operasi Tangkap Tawon (OTT), Operasi Tangkap Ular (OTU), hingga Operasi Tangkap Monyet (OTM).

Masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air, menyiapkan tandon cadangan, memakai masker saat melintasi ruang terbuka guna menghindari dampak debu kemarau, serta tidak sekali-kali membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan yang bisa memicu petaka kebakaran besar. (*)

Baca Juga:
Cerita Pemusatan Latihan dan Rekor Paskibraka Sleman 2026
Baca Juga:
Pegang Prinsip 'Eling lan Waspodo', Pemkab Sleman Gelar Apel Siaga Karhutla 2026