KETIK, SURABAYA – Fenomena El Nino membuat musim kemarau di Indonesia lebih panjang dan berdampak terhadap kekeringan.
Menurut informasi dari BMKG, El Nino menyebabkan awan-awan yang seharusnya membawa hujan di wilayah Indonesia menjadi terhalang.
Trya Chandra, Prakirawan BMKG Juanda mengatakan bahwa awan berpindah ke tengah Samudera Pasifik yang airnya lebih hangat.
“Pasokan awan kurang drastis, hujan jarang turun. Akibatnya musim kemarau di Indonesia jadi lebih panjang dan lebih kering dibanding kemarau sebelumnya,” katanya, Jumat, 4 September 2026.
Trya menjelaskan secara rinci, El Nino sebenarnya tidak menaikkan suhu udara secara langsung. Melainkan menghilangkan awan sehingga matahari terasa panas.
Baca Juga:
Kemarau Tekan Pasokan, Harga Cabai Keriting di Pasar Labuha Halmahera Selatan Tembus Rp120 Ribu per KilogramUdara terasa panas karena langit di wilayah Indonesia bersih tanpa awan. Sinar matahari langsung ke bumi tanpa ada penghalang.
“Jadi yang membuat udara terasa panas adalah terik matahari langsung tanpa penghalang,” jelas Trya.
Berdasarkan data dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) di Indonesia yang terdampak El Nino tercatat 15 provinsi dan 47 kabupaten/kota.
Wilayah terdampak El Nino sangat kuat di sebelah selatan khatulistiwa. Di wilayah tersebut sedang mengalami kemarau.(*)