KETIK, PACITAN – Alun-alun Pacitan tidak hanya menjadi ruang publik yang dikenal masyarakat setempat hingga kini. 

Tempat tersebut juga tercatat dalam sejarah sebagai lokasi eksekusi dua tokoh yang terlibat dalam pemberontakan PKI-Muso pada 1948.

Peristiwa itu tercatat dalam buku "Siliwangi dari Masa ke Masa", yang mengisahkan rangkaian operasi militer untuk menumpas pemberontakan PKI-Muso di sejumlah wilayah, termasuk Pacitan.

Dalam buku tersebut disebutkan, Batalyon Nasuhi dari Brigade Siliwangi berhasil menangkap dua tokoh yang disebut sebagai tokoh sentral pemberontakan. 

Keduanya adalah eks Jenderal Mayor Joko Suyono dan eks Letnan Kolonel Yusuf Bakri.

Baca Juga:
Detik-detik Truk Hino Oleng Tabrak Guardrail di Jalan Pacitan-Solo

Setelah ditangkap, keduanya disebut kemudian dieksekusi dengan ditembak mati oleh Batalyon Nasuhi di Alun-alun Pacitan, tepatnya kini lokasinya menjadi Tugu Pancasila sisi selatan.

Eksekusi tersebut berlangsung dengan disaksikan ribuan masyarakat.

“Tampaknya memang hukuman mati yang dijatuhkan ketika itu terhadap gembong-gembong PKI-Muso itu, kejam sekali. Akan tetapi memang demikianlah hukum revolusi, apa lagi ini terhadap gembong-gembong yang di samping mengkhianati Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, juga telah melakukan pembunuhan-pembunuhan yang kejam terhadap tawanan-tawanannya dari semua golongan, tentunya terkecuali golongan komunis sendiri,” tulis dalam buku halaman 154-166, dikutip Ketik.com, Rabu, 30 September 2026.

Peristiwa itu menjadi bagian penutup dari rangkaian operasi militer yang berlangsung setelah pasukan TNI merebut Kota Pacitan pada 15 Oktober 1948.

Baca Juga:
Sudah Disebar 4,8 Ton Garam, Hujan Buatan yang Sasar Pacitan Belum Berhasil

Berikut rangkaian kisahnya:

Desa Karanggede, Titik Pertempuran Sebelum Menuju Pacitan

Salah satu pasukan yang diperintahkan menuju Pacitan adalah Batalyon Nasuhi. 

Pasukan tersebut sebelumnya menjalankan operasi di sejumlah wilayah di Jawa Tengah sebelum diarahkan menuju Pacitan.

Dalam perjalanan, Batalyon Nasuhi bersama satuan Akademi Militer menghadapi pasukan pemberontak PKI yang bermukim di Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari.

Pasukan pemberontak menghadang rombongan ketika perjalanan. 

Hadangan itu kemudian berhasil ditembus setelah satu peleton pasukan Akademi Militer melakukan taktik pengepungan dan menyerang kubu pertahanan dari bagian belakang.

Dalam peristiwa tersebut, Vaandrig Cadet Margono dari pasukan militer disebut mengalami luka pada kaki akibat tembakan.

Setelah pertahanan di Karanggede berhasil ditembus, gerakan pasukan dilanjutkan menuju Pacitan.

Dari Giriwoyo dan Punung, Pasukan Bergerak ke Pacitan

Jalur menuju Pacitan tidak hanya dilalui oleh satu satuan militer, tetapi tiga.

Kompi Witono ditugaskan terus bergerak menuju Pacitan melalui Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri dan Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan. 

Pada saat yang sama, Kompi Solihin dan Kompi Suwarso bergerak dari arah barat.

"Sayap kanan diisi oleh Batalyon Nasuhi, Batalyon Husinsyah dan Brigade V/Slamet Riyadi. Nasuhi ditugaskan merebut Pacitan dengan route Surakarta-Wonogiri-Baturetno-Pacitan. Sedangkan Husinsyah meneruskan gerakannya ke Ponorogo. Pada Batalyon Nasuhi diperbantukan pasukan MA Kompi S, sedangkan Kompi U ber gerak dari Yogyakarta mengambil route Yogya Wonosari-Pracimantoro-Pacitan," tulis dalam buku.

Ketiga kekuatan satuan tersebut disebut berhasil mengejar dan memukul mundur pasukan pemberontak ke arah Pacitan.

Pergerakan tersebut menjadi bagian dari operasi yang dilakukan pasukan Siliwangi untuk mengejar kekuatan PKI-Muso yang bergerilya dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Mlati dan Arjosari Masuk Jalur Operasi

Selain melalui Giriwoyo dan Punung, pasukan Batalyon Nasuhi juga bergerak menuju Pacitan melalui sejumlah jalur lain.

Sebagian pasukan mengambil jalan melalui Melat atau Mlati, sedangkan sebagian lainnya menempuh jalan melalui Arjosari.

Di Melat, pasukan disebut menemukan gudang mesiu dan perbekalan PKI.

Batalyon Nasuhi kemudian meneruskan gerakannya menuju Pacitan setelah melakukan operasi di sejumlah wilayah sebelumnya.

Pacitan Sudah Direbut Batalyon Lain

Ketika Batalyon Nasuhi tiba di Pacitan, kota tersebut ternyata sudah lebih dahulu direbut oleh Batalyon Akhmad Wiranatakusumah.

Buku tersebut menyebut pasukan Batalyon Nasuhi kemudian tiba di Pacitan bersama sejumlah satuan lainnya. 

Di antaranya Kompi Solihin, Kompi Suwarso, Kompi Witono dan Kompi “U” dari Akademi Militer yang bergerak dari arah barat Pacitan.

Buku itu secara eksplisit menyebut Pacitan sebagai kota terakhir di daerah selatan yang masih berhasil dipertahankan pihak pemberontak.

15 Oktober 1948, TNI Berhasil Merebut Pacitan

Tanggal 15 Oktober 1948 menjadi salah satu tanggal penting.

“Pihak TNI berhasil merebut kota itu pada tanggal 15 Oktober 1948,” tulis buku.

Perebutan Pacitan tersebut terjadi dalam rangkaian operasi yang melibatkan sejumlah batalyon dan kompi dari pasukan Siliwangi.

Sebelum sampai ke Pacitan, pasukan bergerak melalui berbagai wilayah, termasuk Wonogiri, Tirtomoyo, Giriwoyo dan Punung.

Setelah Pacitan berhasil direbut, operasi pasukan Siliwangi masih berlanjut untuk mengejar sisa-sisa kekuatan pemberontak di wilayah.

Penangkapan dan Eksekusi Dua Tokoh PKI

Batalyon Nasuhi, dalam rangkaian operasi penumpasan pemberontakan PKI-Muso pada 1948 berhasil menangkap dua tokoh sentral pemberontakan hingga akhirnya dieksekusi.

Mereka adalah eks Jenderal Mayor Joko Suyono dan eks Letnan Kolonel Yusuf Bakri.(*)