KETIK, MALANG – Kehidupan digital yang semakin dekat dengan generasi muda membuat sikap toleransi, empati, dan budaya menghargai sesama menjadi hal yang semakin penting untuk dijaga.

Hal itu menjadi pembahasan dalam kegiatan Diskusi Kebangsaan dengan tema “Membangun Ekosistem Digital dan Pendidikan Tinggi yang Inklusif, Toleran, dan Anti Kekerasan di Era Disruptif” yang digelar di Universitas Brawijaya pada Rabu, 20 Mei 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Rektor Prof. Dr. Ir. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. menyampaikan materi mengenai peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang inklusif dalam membangun ekosistem yang sehat secara mental, toleran, dan antikekerasan.

Ia menekankan bahwa hal paling dasar yang harus dimiliki manusia adalah kemampuan untuk menghargai orang lain. Menurutnya, sikap saling menghormati harus ditanamkan sejak sekarang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau ingin dihargai, maka kita juga harus belajar menghargai orang lain terlebih dahulu,” ujarnya.

Baca Juga:
Polisi Amankan Tersangka Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak MTs di Malang

Ia mencontohkan, sikap sederhana seperti memperhatikan saat orang lain berbicara. Ketika dosen atau seseorang sedang menyampaikan sesuatu, namun lawan bicaranya justru sibuk bermain ponsel, hal itu dianggap sebagai bentuk kurangnya rasa hormat.

Selain itu, sikap menghargai juga bisa terlihat dari kebiasaan kecil di lingkungan sekitar, seperti memberi jalan kepada pejalan kaki saat lampu penyeberangan menyala merah. Hal-hal sederhana tersebut dinilai mencerminkan karakter seseorang dalam menghargai hak orang lain.

Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung bagaimana budaya menghargai sesama telah menjadi kebiasaan di beberapa negara maju seperti Jepang, Singapura, hingga negara-negara di Eropa dan Australia. Menurutnya, budaya tersebut perlu diterapkan tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital.

"Ketika berada di media sosial, banyak orang merasa bebas berkata apa saja karena tidak berhadapan langsung. Padahal tulisan dan komentar tetap bisa berdampak pada orang lain,” jelasnya.

Baca Juga:
Wanti-Wanti DPRD Kota Malang, Pengelolaan TPS yang Salah Ancam Kualitas Air Masyarakat

Ia mengingatkan bahwa jejak digital saat ini menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang. Cara berkomentar, menggunakan bahasa, hingga menyampaikan pendapat di media sosial dapat membentuk penilaian orang lain terhadap karakter dan kepribadian seseorang.

Menurutnya, generasi muda saat ini memang hidup sangat dekat dengan teknologi dan informasi digital. Namun, informasi yang beredar di media sosial sering kali hanya berupa potongan singkat sehingga pemahaman yang didapat menjadi tidak utuh.

Menyikapi itu, mahasiswa tetap perlu membaca buku dan mempelajari sumber yang lengkap agar memiliki pemahaman yang lebih mendalam, bukan hanya bergantung pada informasi singkat di internet.

Selain membahas dunia digital, ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan hidup antara aktivitas online dan offline. Perguruan tinggi, kata dia, kini mulai mendorong mahasiswa untuk aktif dalam organisasi, UKM, komunitas sosial, olahraga, hingga kegiatan kemanusiaan agar tidak terus-menerus hidup di depan layar.

Ia juga menekankan bahwa kesehatan fisik menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan seseorang.

“Sepintar apa pun seseorang, kalau tubuhnya tidak sehat, maka semuanya akan terhambat,” katanya.

Mahasiswa diingatkan untuk tetap menjaga pola hidup sehat dengan rutin berolahraga dan melakukan aktivitas fisik. Menurutnya, kesehatan merupakan investasi penting untuk masa depan.

Tak hanya itu, media sosial juga dinilai seharusnya menjadi ruang untuk berbagi hal-hal positif seperti pengetahuan, inspirasi, dan gagasan yang bermanfaat, bukan justru digunakan untuk merundung, menghina, atau menjatuhkan orang lain.

Di akhir pemaparannya, ia mengajak mahasiswa untuk memiliki tujuan hidup yang jelas dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat melalui ilmu, pendidikan, dan pengalaman yang dimiliki.

“Sebagai mahasiswa, kita diharapkan mampu ikut membangun peradaban yang lebih baik dan lebih mulia,” tutupnya. (*)