KETIK, JAKARTA – Kanker payudara menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai perempuan karena peluang penanganannya sangat dipengaruhi oleh waktu diagnosis. Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang tepat sebelum penyakit berkembang ke stadium lanjut.
Dosen Departemen Biostatistika, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. dr. Prima Dhewi Ratrikaningtyas, M.Biotech., mengatakan kanker payudara pada dasarnya dapat ditangani dengan baik apabila ditemukan sejak stadium awal. Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan mengenali kondisi tubuh dan melakukan pemeriksaan secara berkala.
"Kanker secara umum itu sangat penting untuk bisa kita deteksi sejak awal karena sebenarnya kan bisa disembuhkan total kalau terdeteksi di stadium yang awal. Jadi sebenarnya bisa disembuhkan, termasuk penyakit yang bisa disembuhkan," jelas Prima.
Menurut Prima, persoalan kanker payudara menjadi semakin berat ketika pasien baru datang ke fasilitas kesehatan setelah penyakit berkembang. Kondisi tersebut dapat terjadi karena masyarakat masih cenderung menghubungkan pemeriksaan kesehatan dengan munculnya keluhan atau rasa sakit.
Ia menilai pola pikir tersebut perlu diubah. Pemeriksaan kesehatan seharusnya tidak selalu menunggu seseorang mengalami gejala. Upaya menemukan kelainan sejak dini justru dapat membuka peluang penanganan sebelum kondisi menjadi lebih serius.
Baca Juga:
Kenali Faktor Risiko Kanker Payudara, Riwayat Keluarga Perlu Diwaspadai"Budaya di Indonesia itu kalau belum sakit, belum ingin diperiksa. Jadi, belum banyak kesadaran untuk check up rutin," katanya.
Selain rendahnya kesadaran pemeriksaan, rasa takut terhadap hasil diagnosis juga dapat membuat seseorang menunda mencari pertolongan. Kekhawatiran terhadap operasi, biaya pengobatan, maupun kondisi setelah menerima diagnosis kanker menjadi sejumlah alasan yang dapat menghambat seseorang memeriksakan diri.
Padahal, penundaan pemeriksaan justru dapat membuat penyakit berkembang tanpa mendapatkan penanganan yang sesuai. Karena itu, Prima mendorong masyarakat agar tidak mengabaikan perubahan pada payudara dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan kondisi yang tidak biasa.
Baca Juga:
Keluarga Pasien Kanker di Jember Harapkan Layanan Perawatan di RumahSADARI Jadi Langkah Awal yang Bisa Dilakukan di Rumah
Prima menjelaskan perempuan dapat melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI sebagai salah satu langkah sederhana untuk mengenali kondisi payudara. Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara mandiri sehingga masyarakat tidak harus selalu menunggu pemeriksaan di fasilitas kesehatan untuk mulai memperhatikan perubahan pada tubuh.
Menurutnya, edukasi mengenai SADARI perlu diperluas, terutama kepada perempuan usia muda. Pemahaman yang baik membuat perempuan lebih mengenali kondisi normal payudaranya sehingga lebih mudah menyadari apabila muncul perubahan.
"Sebenarnya SADARI itu mudah dilakukan. Mungkin perlu promosi kesehatan yang lebih masif tentang SADARI itu sebenarnya mudah," ujarnya.
Pemeriksaan mandiri juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan. Perempuan dapat meluangkan waktu secara rutin untuk memperhatikan dan meraba payudara guna mengenali adanya perubahan yang sebelumnya tidak ditemukan.
Prima menyarankan SADARI dilakukan secara rutin, misalnya satu kali dalam sebulan. Apabila seseorang menemukan benjolan atau perubahan yang mencurigakan, pemeriksaan mandiri tersebut tidak boleh menjadi pengganti pemeriksaan medis. Temuan tersebut perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian lebih lanjut.
Edukasi mengenai SADARI juga dapat dikemas melalui berbagai media yang mudah dipahami. Poster, materi visual, maupun kampanye kesehatan dapat membantu masyarakat memahami langkah pemeriksaan dengan lebih benar dan mendorong perempuan menjadikannya sebagai kebiasaan.
Jangan Menunggu Gejala Berat
Deteksi dini tidak berarti seseorang harus menunggu munculnya rasa sakit. Justru, pemeriksaan bertujuan menemukan perubahan lebih awal sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan penilaian dan menentukan langkah berikutnya sesuai kondisi pasien.
Prima juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengambil kesimpulan ketika menemukan perubahan pada payudara. Tidak setiap benjolan atau perubahan otomatis menunjukkan kanker. Namun, kondisi tersebut tetap perlu mendapatkan pemeriksaan medis agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat.
Sikap waspada juga perlu dibarengi dengan keberanian mencari bantuan. Ketakutan terhadap kanker seharusnya tidak membuat seseorang menghindari pemeriksaan karena semakin lama diagnosis tertunda, semakin besar risiko penyakit ditemukan dalam kondisi yang lebih berat.
Upaya deteksi dini membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Tenaga kesehatan perlu memperkuat edukasi, sementara keluarga dapat memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang membutuhkan pemeriksaan. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang benar agar tidak mudah percaya pada mitos yang membuat pemeriksaan medis tertunda.
"Semua bersama-sama untuk menangani ini. Kemudian juga keluarga misalnya, keluarga juga harus support," tutur Prima.
Ia menambahkan, pengobatan alternatif tidak seharusnya menggantikan pemeriksaan dan penanganan medis. Jika seseorang memilih menggunakan pengobatan alternatif, langkah tersebut tetap perlu berjalan berdampingan dengan pemeriksaan kesehatan yang tepat.
Pada akhirnya, membangun kebiasaan deteksi dini menjadi bagian penting dalam menghadapi kanker payudara. Pemeriksaan rutin, termasuk SADARI, dapat membantu perempuan lebih mengenali kondisi tubuh dan segera mencari pertolongan ketika menemukan perubahan yang mencurigakan.
Selain kebiasaan melakukan pemeriksaan, perempuan juga perlu mengetahui apakah dirinya memiliki faktor risiko tertentu, seperti riwayat kanker dalam keluarga atau faktor genetik. Kesadaran terhadap faktor risiko tersebut dapat membantu menentukan tingkat kewaspadaan dan kebutuhan pemeriksaan secara lebih tepat. (*)