KETIK, MALANG – Perjalanan panjang selama hampir dua tahun mengantarkan Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, S.P., M.P., bersama tim penelitinya menemukan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu di kawasan UB Forest.
Penemuan yang baru saja dipublikasikan kepada masyarakat luas tersebut menjadi pencapaian penting bagi Universitas Brawijaya sekaligus menambah daftar kekayaan biodiversitas Indonesia yang selama ini masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap.
Bagi Prof. Hagus, perjalanan menemukan empat spesies baru tersebut tidak terjadi dalam semalam. Semua berawal dari kegiatan sederhana yang rutin dilakukan para peneliti serangga, yakni menyusuri kawasan hutan sambil mencari sampel kulit kayu mati untuk kepentingan penelitian.
Saat itu, pada 2024, Prof. Hagus bersama tim tengah berada di UB Forest untuk melakukan pengambilan sampel. Di sela-sela aktivitas tersebut, mereka menemukan beberapa kumbang yang tampak berbeda dibandingkan spesies yang selama ini dikenal.
Ukuran tubuh, pola warna, hingga bentuk bagian tertentu dari kumbang tersebut memunculkan kecurigaan bahwa serangga yang mereka temukan bukanlah spesies biasa.
Baca Juga:
Arema FC Resmi Rekrut Robi Darwis, Diikat Kontrak Dua Musim"Kami menemukan beberapa kumbang yang bentuknya berbeda dan belum pernah kami lihat sebelumnya. Dari situ kami mulai menduga bahwa ini bukan spesies yang sudah teridentifikasi," ujar Prof. Hagus.
Namun, dugaan tersebut tentu tidak bisa langsung disimpulkan sebagai penemuan spesies baru. Dalam dunia taksonomi serangga, proses identifikasi membutuhkan tahapan panjang dan melibatkan banyak pihak dari berbagai negara.
Kecurigaan awal itu kemudian membawa tim peneliti pada perjalanan ilmiah yang memakan waktu hampir dua tahun.
Pada 2025, sampel kumbang yang ditemukan di UB Forest dikirim ke Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Baca Juga:
Hari Bhayangkara ke-80, Polresta Malang Kota Gelar Peringatan Sederhana dan Ziarah Korban Tragedi KanjuruhanPenelitian kemudian berkembang menjadi kolaborasi internasional yang melibatkan peneliti dari University of Florida di Amerika Serikat, Michigan State University, hingga sejumlah kurator serangga dari Thailand yang memiliki pengalaman panjang dalam identifikasi kumbang dunia.
Menurut Prof. Hagus, proses identifikasi spesies tidak hanya dilakukan dengan melihat bentuk fisik semata, tetapi juga melalui pencocokan dengan koleksi serangga dunia dan basis data internasional.
Para peneliti membandingkan satu per satu karakteristik kumbang tersebut dengan spesies yang telah tercatat sebelumnya, mulai dari ukuran tubuh, bentuk antena, pola pada sayap, hingga struktur bagian tubuh yang sangat detail.
Selain pemeriksaan morfologi, proses identifikasi juga melibatkan analisis DNA untuk melihat tingkat kemiripan genetik dengan spesies lain yang telah terdaftar dalam database internasional.
"Kalau di atas 90 persen berarti masih ada hubungan kekerabatan dengan spesies yang sudah ada di database. Tetapi jika tingkat kemiripannya jauh lebih rendah, kemungkinan besar itu adalah spesies baru," jelas Prof. Hagus.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penentuan spesies baru tidak hanya bergantung pada angka kemiripan DNA semata. Para peneliti tetap harus memastikan adanya perbedaan karakter fisik yang konsisten sebelum sebuah spesies dinyatakan baru bagi ilmu pengetahuan.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan verifikasi oleh para ahli dari berbagai negara, akhirnya dipastikan bahwa empat spesimen yang ditemukan di UB Forest merupakan spesies baru.
Empat spesies tersebut adalah Crossotarsus gunungapi Gulcr, Tarno, and Levia; Cosmoderes arjuno Johnson; Cosmoderes opacus Johnson; dan Amasa brawijaya Smith.
Di antara empat nama tersebut, Amasa brawijaya Smith menjadi salah satu yang paling menarik perhatian.
Prof. Hagus mengaku sengaja memilih nama "brawijaya" sebagai bentuk penghormatan kepada Universitas Brawijaya sekaligus upaya mengenalkan nama kampus melalui jalur ilmiah internasional.
"Yang jelas saya ingin nama Brawijaya semakin dikenal. Saya mungkin tidak bisa memberikan banyak hal untuk Brawijaya, tetapi mudah-mudahan penelitian ini bisa menjadi kontribusi kecil saya untuk universitas," katanya.
Tidak hanya itu, proses penamaan spesies lainnya juga memiliki cerita tersendiri.
Usai melakukan penelitian lapangan, Prof. Hagus bersama tim sempat melakukan perjalanan ke kawasan Cangar. Dalam perjalanan tersebut, mereka berdiskusi mengenai nama yang tepat untuk salah satu spesies baru yang ditemukan.
Menurutnya, gunung api merupakan identitas yang sangat lekat dengan Indonesia sebagai negara yang berada di jalur cincin api dunia.
Di sekitar kawasan penelitian sendiri terdapat sejumlah gunung yang sudah sangat dikenal, seperti Gunung Kelud dan Gunung Semeru.
Dari diskusi itulah kemudian lahir nama Crossotarsus gunungapi.
"Habis dari UB Forest kami ke Cangar. Kami berpikir bahwa gunung api sangat identik dengan Indonesia karena di sekitar sini ada Gunung Kelud, Gunung Semeru, dan gunung lainnya. Akhirnya kami memilih nama gunungapi," jelasnya.
Bagi Prof. Hagus, penemuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Indonesia masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang sangat besar, terutama pada kelompok serangga yang hingga kini belum banyak dipelajari.
Ia menilai jumlah peneliti yang fokus pada bidang entomologi masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan besarnya keanekaragaman serangga di Indonesia.
Akibatnya, masih ada jutaan spesies yang diperkirakan belum pernah diidentifikasi maupun dipublikasikan secara ilmiah.
Menurutnya, setiap spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan rantai makanan di alam.
Karena itu, ia berharap penelitian seperti ini dapat mendorong semakin banyak generasi muda untuk menekuni bidang biodiversitas dan taksonomi serangga yang selama ini masih kurang diminati.
Di sisi lain, Prof. Hagus juga mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan agar keberadaan berbagai spesies di alam tetap terjaga.
Penggunaan pestisida dan pupuk sintetis secara berlebihan, menurutnya, dapat mengancam keberlangsungan banyak organisme yang memiliki fungsi penting dalam ekosistem.
"Kami berharap aktivitas bercocok tanam maupun kegiatan lainnya tetap menggunakan pendekatan yang ramah lingkungan, seperti mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk sintetis serta menjaga keberagaman tanaman agar keseimbangan ekosistem tetap terpelihara," pungkasnya. (*)