KETIK, PALEMBANG – Perekonomian Sumatera Selatan menunjukkan sejumlah sinyal positif memasuki paruh kedua 2026.

Inflasi masih terkendali, daya beli petani menguat, sementara ekspor, kunjungan wisatawan mancanegara hingga aktivitas bongkar muat pelabuhan mencatat pertumbuhan.

Gambaran tersebut tercermin dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Sumatera Selatan yang dirilis di Kantor BPS Sumsel, Palembang, Selasa, 1 September 2026.

Rilis tersebut mencakup perkembangan inflasi dan Nilai Tukar Petani (NTP) periode Agustus 2026 serta indikator ekspor, pariwisata dan transportasi periode Juli 2026.

Rilis dipimpin Kepala BPS Kota Palembang Moh Wahyu Yulianto dan dihadiri perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bappeda Provinsi Sumsel, instansi terkait serta awak media.

Baca Juga:
Kolaborasi Ketik dan BPS Sumsel, Perkuat Akses Masyarakat terhadap Informasi Statistik

Dari sisi harga, BPS mencatat inflasi year on year (y-on-y) Sumatera Selatan pada Agustus 2026 mencapai 2,60 persen. Secara month to month (m-to-m), Sumsel mengalami inflasi 0,06 persen, sedangkan secara year to date (y-to-d) tercatat 1,68 persen.

Angka tersebut menunjukkan tekanan inflasi di Sumatera Selatan masih relatif terkendali.

Jika dilihat berdasarkan kabupaten/kota, Kabupaten Muara Enim mencatat inflasi y-on-y tertinggi sebesar 3,26 persen. Sementara Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan inflasi y-on-y terendah, yakni 2,47 persen.

Pergerakan sejumlah komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi terus menjadi perhatian pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), bersama Bank Indonesia dan stakeholder terkait.

Baca Juga:
Dandim 0402/OKI-OI Sambangi Desa Tebedak, Apresiasi Keluarga Calon Prajurit TNI dan Tinjau Sejumlah Proyek Pembangunan

Di sektor pertanian, indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan perbaikan. BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Selatan pada Agustus 2026 mencapai 150,53 atau meningkat 1,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan NTP tersebut menunjukkan adanya perbaikan relatif pada daya beli dan kondisi usaha petani.

Tidak hanya NTP, Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) juga meningkat 1,12 persen menjadi 149,92.

Perkembangan tersebut menjadi indikator penting karena sektor pertanian masih memiliki peran strategis dalam perekonomian Sumatera Selatan.

Sinyal positif juga terlihat dari sektor perdagangan luar negeri. Nilai ekspor Sumatera Selatan pada Juli 2026 mencapai US$569,08 juta, meningkat 13,28 persen secara year on year.

Pertumbuhan ekspor tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas perdagangan Sumatera Selatan di tengah dinamika perekonomian global.

Sektor pariwisata turut menunjukkan pertumbuhan. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 942 orang atau meningkat 10,95 persen dibandingkan periode yang sama.

Sementara itu, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang tercatat sebesar 51,97 persen.

Pergerakan ekonomi juga terlihat dari aktivitas transportasi dan logistik. Aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan mencapai 377.938 ton atau meningkat 41,15 persen.

Kenaikan terbesar berasal dari aktivitas barang dalam negeri yang tumbuh 62,09 persen.

Lonjakan tersebut menjadi salah satu sinyal meningkatnya mobilitas barang dan aktivitas perdagangan melalui jalur laut di Sumatera Selatan.

Kepala BPS Kota Palembang Moh Wahyu Yulianto mengatakan kombinasi sejumlah indikator tersebut memberikan gambaran positif terhadap perkembangan ekonomi Sumatera Selatan.

Menurutnya, inflasi yang tetap terkendali, peningkatan NTP petani, pertumbuhan ekspor serta aktivitas logistik menjadi sejumlah indikator yang perlu terus dicermati bersama.

“Kami berharap data ini bisa menjadi bahan evaluasi bersama BI, Bappeda dan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong sektor produktif,” ujar Moh Wahyu Yulianto.

Ia menegaskan data statistik yang dirilis secara berkala bukan sekadar angka. Data tersebut dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

BPS Sumsel memastikan Berita Resmi Statistik akan terus dirilis secara rutin setiap bulan. Pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bappeda dan instansi terkait diharapkan dapat menindaklanjuti berbagai indikator yang masih memerlukan perhatian.(*)