KETIK, BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso mulai membuka peluang kerja sama internasional dengan sejumlah pemerintah daerah di Republik Kamerun.
Potensi kopi unggulan, pertanian organik, hingga pariwisata berbasis geopark menjadi sektor strategis yang ditawarkan untuk membangun kemitraan lintas negara.
Peluang tersebut mengemuka dalam pertemuan penjajakan kerja sama antara Bupati Bondowoso dan delegasi pemerintah daerah Kamerun yang difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaounde, Senin (19/10/2026). Pertemuan berlangsung di Pringgitan Pendopo Raden Bagus Assra Bondowoso.
Bupati Bondowoso H. Abdul Hamid Wahid menerima langsung rombongan sekaligus menyampaikan paparan utama mengenai potensi daerah dan peluang pengembangan kerja sama.
Sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) turut hadir untuk membahas kemungkinan kolaborasi yang dapat direalisasikan secara konkret.
Baca Juga:
94 KDKMP Lolos Verifikasi, Bondowoso Menanti Komando Pusat untuk OperasionalDelegasi Kamerun terdiri atas Wali Kota Bibemi Armand YEDI, Wali Kota Diang Germain Médard BELINGA EVOUNE, serta Sekretaris Jenderal Pouma Patience Julie NGO MBIHNUM.
Rombongan didampingi Tomy Lutvan Abqory, Sekretaris Tiga Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Yaounde, serta Muhammad Fauzan sebagai staf sekaligus penerjemah.
Perwakilan KBRI Yaounde, Tomy Lutvan Abqory, menegaskan bahwa pihaknya berperan sebagai jembatan diplomasi untuk mempertemukan pemerintah daerah Indonesia dengan mitra potensial di kawasan Afrika Tengah.
Menurutnya, penjajakan kerja sama perlu dimulai dengan dialog terbuka agar kedua belah pihak dapat mengidentifikasi potensi, kebutuhan, dan kepentingan yang bisa disinergikan.
Baca Juga:
Atasi Kekeringan, Bupati Bondowoso Pastikan Irpom Mampu Aliri 1.110 Hektare LahanKBRI Yaounde, lanjut Tomy, membuka ruang komunikasi bagi Pemkab Bondowoso dan delegasi Kamerun untuk menemukan titik temu dalam menentukan sektor prioritas yang berpeluang dikembangkan bersama.
Meski baru beroperasi sekitar dua setengah tahun, KBRI Yaounde melihat peluang besar untuk memperluas hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika Tengah. Kerja sama yang dijajaki tidak hanya menyangkut perdagangan, tetapi juga tata kelola pemerintahan, kesehatan, pendidikan, perguruan tinggi, hubungan antarmasyarakat, bisnis, dan ekonomi kreatif.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuka akses kemitraan baru yang memberikan manfaat timbal balik, sekaligus memperkuat hubungan antarpemerintah daerah kedua negara.
Dalam pemaparannya bertajuk Bondowoso: Dari Warisan Alam Menuju Pembangunan Berkelanjutan, Bupati Abdul Hamid Wahid memperkenalkan karakteristik wilayah serta sejumlah sektor unggulan yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan bersama mitra internasional.
Bondowoso memiliki luas wilayah 1.560,10 kilometer persegi, terbagi dalam 23 kecamatan dan 209 desa. Sekitar 90,57 persen wilayahnya dimanfaatkan untuk sektor pertanian, menjadikan sektor ini sebagai salah satu fondasi utama perekonomian daerah.
Kinerja ekonomi Bondowoso juga menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,32 persen dengan produk domestik regional bruto atas dasar harga berlaku (PDRB ADHB) mencapai Rp28,56 triliun.
Pada periode 2021–2025, tingkat pengangguran terbuka turun dari 4,46 persen menjadi 2,55 persen. Sementara itu, angka kemiskinan menurun dari 14,73 persen menjadi 12,20 persen.
Dari sejumlah sektor yang ditawarkan, kopi menjadi salah satu komoditas paling potensial untuk membuka peluang perdagangan dan pengembangan usaha. Bondowoso memiliki lebih dari 8.700 petani kopi serta produk yang telah dikenal melalui identitas geografisnya.
Data yang dipaparkan Pemkab Bondowoso mencatat produksi kopi Robusta pada 2025 mencapai 3.237,61 ton, sedangkan kopi Arabika mencapai 5.676,23 ton.
Keunggulan tersebut diperkuat kepemilikan sertifikat Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Java Ijen-Raung dan Kopi Arabika Hyang Argopuro. Pengakuan ini menjadi modal penting untuk memperkuat identitas produk, meningkatkan nilai tambah, serta memperluas peluang pemasaran ke pasar internasional.
Pemkab Bondowoso juga terus mendorong pengembangan industri kopi dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan kualitas produksi, pengolahan modern, penguatan kapasitas barista, hingga promosi melalui Festival Kopi Nusantara dan Tembakau.
Selain kopi, Bondowoso menawarkan pengalaman pengembangan pertanian organik yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Kawasan padi organik di Bondowoso mencapai 225 hektare, tersebar di Lombok Kulon seluas 105 hektare, Sulek 100 hektare, dan Gadingsari 20 hektare.
Pengembangan pertanian organik di Lombok Kulon yang bermula dari lahan 0,4 hektare pada 2008 menjadi salah satu contoh penguatan sektor pertanian berbasis keberlanjutan. Perkembangan ini didukung regulasi pemerintah daerah serta fasilitas pengolahan, termasuk Rice Milling Unit (RMU), colour sorter, dan unit produksi pupuk organik.
Produk beras organik Bondowoso bahkan telah menjangkau berbagai pasar di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa hingga Sulawesi, Papua, dan Ambon. Pengalaman tersebut berpotensi menjadi bahan pertukaran pengetahuan dan teknologi pertanian dengan pemerintah daerah Kamerun.
Tidak hanya mengandalkan sektor pertanian, Bondowoso juga menawarkan potensi pariwisata yang bertumpu pada kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya lokal.
Ijen Geopark yang ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 24 Mei 2023 menjadi salah satu aset unggulan daerah. Kawasan ini mencakup 21 geosite, enam biosite, dan 10 culturesite yang menggabungkan potensi alam serta warisan budaya.
Sejumlah destinasi, seperti Kawah Ijen dan Kawah Wurung, serta kekayaan budaya Singo Ulung dan situs megalitikum, menjadi daya tarik wisata yang dapat dikembangkan melalui pendekatan konservasi, edukasi, dan ekonomi berkelanjutan.
Pada 2025, kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut tercatat mencapai 701.002 orang. Capaian ini membuka peluang pengembangan investasi dan kemitraan di bidang agrowisata, ekowisata, serta ekonomi kreatif.
Pemkab Bondowoso berharap pengalaman mengelola potensi pariwisata berbasis geopark dapat menjadi salah satu bidang pertukaran pengetahuan dengan mitra dari Kamerun.
Bupati Abdul Hamid Wahid menyambut positif kehadiran para pimpinan daerah Kamerun. Ia berharap pertemuan tersebut menjadi awal terbentuknya hubungan kerja sama yang dapat ditindaklanjuti melalui program nyata.
Menurutnya, peluang kolaborasi dapat mencakup pertukaran informasi, transfer teknologi pertanian, penguatan kapasitas sumber daya manusia, hingga penjajakan perdagangan ekspor-impor komoditas unggulan.
“Pertemuan hari ini bukan sekadar silaturahmi diplomasi, melainkan langkah awal yang sangat strategis untuk menjajaki kerja sama konkret antarpemerintah daerah melalui Kerja Sama Selatan-Selatan,” tegasnya.
Ia menambahkan, Bondowoso siap berbagi pengalaman dalam pengelolaan pertanian organik dari hulu ke hilir, penguatan merek kopi berbasis indikasi geografis, serta pengembangan pariwisata yang memanfaatkan potensi UNESCO Global Geopark.
Pemkab Bondowoso berharap kemitraan tersebut nantinya dapat memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kedua belah pihak.
Setelah pertemuan resmi, agenda dilanjutkan dengan diskusi teknis antara jajaran OPD, delegasi Kamerun, dan perwakilan KBRI Yaounde. Diskusi tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi sektor prioritas sebagai bahan penyusunan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pada tahap berikutnya.
Rangkaian kunjungan juga mencakup peninjauan lapangan ke sejumlah lokasi potensial, termasuk kawasan pertanian organik, sentra pengolahan kopi, dan destinasi pariwisata daerah.
Melalui penjajakan ini, Bondowoso berupaya membawa potensi lokal ke panggung internasional. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan kesamaan kepentingan kedua pihak menjadi program kerja, kemitraan usaha, dan pertukaran teknologi yang berkelanjutan.(*)