KETIK, BOGOR – Kuning telur selama ini kerap dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya kadar kolesterol dalam darah. Akibat anggapan tersebut, tidak sedikit orang memilih hanya mengonsumsi putih telur karena khawatir berisiko memicu penyakit jantung. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan temuan ilmiah terkini.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani, menegaskan bahwa kuning telur justru mengandung beragam zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, masyarakat tidak perlu serta-merta menghindari bagian telur tersebut selama dikonsumsi dalam pola makan yang seimbang.
"Kuning telur merupakan sumber berbagai vitamin dan mineral esensial yang berperan dalam mendukung fungsi tubuh. Kandungan gizinya membuat telur tetap menjadi salah satu sumber protein hewani yang baik untuk dikonsumsi sehari-hari," ujarnya.
Dr Karina juga meluruskan anggapan bahwa konsumsi telur otomatis meningkatkan risiko penyakit jantung. Berdasarkan berbagai penelitian terbaru, konsumsi telur tidak terbukti secara langsung menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada orang yang sehat.
Sebaliknya, peningkatan kadar kolesterol darah lebih banyak dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan, terutama konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans. Jenis makanan tersebut sering kali dikonsumsi bersamaan dengan pangan sumber kolesterol sehingga memunculkan anggapan bahwa telur menjadi penyebab utamanya.
Baca Juga:
Telur Ceplok vs Telur Dadar, Mana yang Lebih Sehat? Ini Penjelasan Ahli GiziDengan kata lain, menjaga kadar kolesterol tidak cukup hanya dengan menghindari kuning telur. Pola makan bergizi seimbang, pembatasan makanan tinggi lemak jenuh, serta penerapan gaya hidup sehat justru menjadi faktor yang lebih menentukan dalam menjaga kesehatan jantung.
Dr Karina pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai mitos mengenai kolesterol tanpa memahami konteks ilmiahnya. Selama dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan cara yang tepat, telur tetap menjadi bagian dari menu bergizi yang dapat memenuhi kebutuhan protein, vitamin, dan mineral harian.
Meski demikian, cara mengolah telur juga perlu diperhatikan. Perbedaan antara telur ceplok dan telur dadar, misalnya, lebih banyak dipengaruhi oleh jumlah minyak yang digunakan selama proses memasak, bukan oleh kandungan gizi telur itu sendiri.
Selain itu, teknik memasak dan suhu pemanasan turut menentukan kualitas protein telur. Memasak pada suhu yang sesuai membantu meningkatkan daya cerna protein, sedangkan pemanasan berlebihan dalam waktu lama berpotensi mengurangi kualitas sebagian zat gizi yang terkandung di dalamnya. (*)