KETIK, MOJOKERTO – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Mojokerto menggelar Seremoni Kurban Berkah BAZNAS Kabupaten Mojokerto di Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Sabtu, 30 Mei 2026. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari syiar ibadah kurban pada momentum Iduladha, tetapi juga wujud nyata pemberdayaan ekonomi umat melalui penguatan sektor peternakan lokal.
Acara tersebut dihadiri Bupati Mojokerto, pimpinan BAZNAS Provinsi Jawa Timur, jajaran Pemerintah Kabupaten Mojokerto, Kementerian Agama, Kementerian Haji, Forkopimca Mojoanyar, pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), pengurus dan amil BAZNAS, relawan, tokoh masyarakat, hingga para mustahik penerima manfaat.
Ketua BAZNAS Kabupaten Mojokerto dalam laporannya menjelaskan bahwa Program Kurban Berkah tahun ini dirancang tidak hanya berfokus pada penyembelihan dan pembagian daging kurban, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
“Yang membanggakan, seluruh kambing yang disembelih pada program kurban tahun ini berasal dari Balai Ternak binaan BAZNAS. Ini menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang dijalankan benar-benar menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Pada tahun 2026, jumlah hewan kurban yang disembelih mencapai 301 ekor kambing. Sebanyak 60 ekor berasal dari Program BAZNAS RI, 231 ekor dari Program BAZNAS Kabupaten Mojokerto, dan 10 ekor merupakan hasil kerja sama antara BAZNAS dan USAID.
Baca Juga:
BRI Tuban Bangun Greenhouse di Kampus Mapena Singgahan, Dukung Pertanian ModernSeluruh hewan kurban tersebut berasal dari peternak lokal yang tergabung dalam program Balai Ternak BAZNAS Kabupaten Mojokerto. Program tersebut selama ini menjadi salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dijalankan BAZNAS melalui pembinaan dan pendampingan peternak.
Dari penyembelihan ratusan kambing tersebut, BAZNAS Kabupaten Mojokerto berhasil mendistribusikan sebanyak 3.621 paket daging kurban dengan berat sekitar satu kilogram per paket kepada masyarakat fakir miskin yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Mojokerto.
Ketua BAZNAS Kabupaten Mojokerto menegaskan bahwa capaian tersebut bukan sekadar angka distribusi bantuan, melainkan representasi dari manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Baca Juga:
Pedagang di Surabaya Ungkap Nasib Kambing dan Sapi Kurban yang Tak Laku Terjual saat Iduladha“Di balik setiap paket yang diterima masyarakat, terdapat semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan amanah para pekurban yang telah mempercayakan ibadahnya melalui BAZNAS,” katanya.
Selain sukses dalam distribusi daging kurban, BAZNAS Kabupaten Mojokerto juga mencatat penghimpunan dana kurban dan layanan Iduladha tahun 2026 mencapai sekitar Rp1,001 miliar. Capaian tersebut dinilai menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan dana sosial keagamaan yang dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel.
Sementara itu, Bupati Mojokerto dalam sambutannya memberikan apresiasi atas keberhasilan BAZNAS Kabupaten Mojokerto mengintegrasikan nilai ibadah, kepedulian sosial, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu program yang berdampak luas bagi masyarakat.
Menurutnya, Program Kurban Berkah tidak hanya menghadirkan manfaat spiritual, tetapi juga mendukung penguatan ekonomi peternak lokal, meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi, dan memperkuat solidaritas sosial.
“Yang terpenting adalah bagaimana semangat kurban mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan, mendukung peternak lokal, serta memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial,” ujar Bupati Mojokerto.
Ke depan, BAZNAS Kabupaten Mojokerto berencana mengembangkan Program Lumbung Pangan Berbasis Kelompok Masyarakat sebagai kelanjutan dari keberhasilan model pemberdayaan Balai Ternak. Program tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat binaan.
Melalui Program Kurban Berkah, BAZNAS Kabupaten Mojokerto menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan yang tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga mampu mendorong terciptanya kesejahteraan dan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.
“Dari kurban untuk keberkahan, dari pemberdayaan menuju kemandirian umat.”(*)