KETIK, SIDOARJO – Kabupaten Sidoarjo masih menyimpan pekerjaan rumah besar dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah gemerlap pembangunan wilayah perkotaan, terjepit ratusan warga yang hidup dengan berbagai kekurangan di Kecamatan Porong. Rumah tidak layak huni. Kehidupan ekonomi yang jauh dari sejahtera. Miskin ekstrem.
Warga berstatus miskin ekstrem itu tinggal di Dusun Tanggulrejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Jumlahnya sekitar 80 kepala keluarga atau kira-kira 500 jiwa. Mereka menempati rumah di tanah bekas Liponsos Provinsi Jawa Timur. Sebagian lagi lahan milik Dinas Pengairan Kabupaten Sidoarjo sekarang Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (PU BM SDA) Sidoarjo. Tak ada hak warga miskin ekstrem ini menempati lahan pemerintah.
Di antara 80 kepala keluarga miskin ekstrem tersebut, 41 keluarga tercatat tidak pernah tersentuh bantuan apa pun dari pemerintah. Mereka hidup dari mencari nafkah sebagai pengamen, polisi cepek, dan lain-lain. Semua warga itu masuk kategori Desil 1. Desil 1 adalah kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah atau masuk kategori sangat miskin.
"Lha, di Sidoarjo ternyata masih ada warga yang semiskin itu," ujar Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori.
Baca Juga:
Plafon SDN Kemantren 1 Tulangan Ambrol, Rehab Total Terkendala Status Cagar BudayaRabu pagi (29 April 2026), Dhamroni Chudlori bersama anggota Komisi D DPRD Sidoarjo Sutaji melakukan sidak (inspesksi mendadak) ke kampung warga yang berstatus miskin ekstrem tersebut. Setelah mampir ke Kantor Kelurahan Porong, keduanya meluncur ke lokasi kampung miskin ekstrem Sidoarjo tersebut.
Tenaga sosial, lurah, dan Camat Porong, Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial di Dinas Sosial Sidoarjo M. Wildan, serta beberapa perangkat Kelurahan Porong menyertai dua legislator DPRD Sidoarjo itu.
Bagaimana kondisi mereka? Ternyata benar informasi yang masuk ke DPRD Sidoarjo. Ada banyak warga yang hidupnya serbakekurangan. Benar-benar miskin ekstrem. Rumah mereka pun jauh dari layak huni. Bahkan, ada yang bidup tanpa listrik. Namanya Mbah Jalmo. Usianya sekitar 70 tahun. Matanya pun sudah tak bisa melihat lagi.
Baca Juga:
Seleksi Calon Komisaris dan Direksi Delta Artha maupun Aneka Usaha Bekerja Sama dengan PolriMenurut Halimah, ketua RT setempat, memang banyak warganya yang belum pernah menerima bantuan. Karena itu, dia dengan senang hati mengantar dua anggota Fraksi PKB DPRD Sidoarjo itu menemui warganya.
"Mbah Jalmo ini sudah sebatangkara, Pak," katanya.
Istrinya meninggal 2022 lalu. Untuk kebutuhan sehari-hari, dia sebenarnya sudah dapat bantuan Rp 600 ribu per tiga bulan. Kalau uangnya sudah habis, dia utang ke toko depan rumah. Sering cuma makan mi.
"Kalau bantuannya cair, baru utangnya dibayar," tambah Halimah.
Ada pula warga yang menderita gangguan jiwa. Usianya masih sekitar 35 tahunan. Sehari-hari pemuda itu hanya duduk di teras rumahnya. Termenung. Tatapan matanya kosong ke arah semak-semak di samping rumahnya.
Mendengar itu, Dhamroni Chudlori dan Sutaji langsung menyatakan siap membantu. Dia meminta tenaga sosial maupun pengurus kampun dan Dinas Sosial Sidoarjo mendata penduduk kampung miskin ekstrem itu. Baik warga yang belum dapat bantuan, anak putus sekolah, pemuda usia produktif, dan sebagainya.
”Kami siap mengupayakan bantuan dan program untuk warga. Ini kewajiban pemerintah,” tegas anggota DPRD Sidoarjo asal Tulangan tersebut.
Anggota Komisi DPRD Sidoarjo Sutaji menambahkan, dirinya siap mengadakan pelatihan untuk ibu-ibu yang ingin bekerja menambah penghasilan keluarga. Menyekolahkan anak-anak putus sekolah. Mengikutkan pemuda-pemuda usia produktif dalam berbagai pelatihan.
”Dalam waktu dekat saya siap program pelatihan buat roti untuk ibu-ibu,” tambah Sutaji, anggota DPRD Sidoarjo asal Tanggulangin.
Sutaji menyatakan dirinya juga bakal mengusahakan beragam program bantuan dan pelatihan untuk warga Dusun Tanggulrejo, Kelurahan Porong, Kecamatan Porong, itu. (*)