KETIK, SURABAYA – Sebanyak 50 orang Pengurus Daerah (PD) Dewan Masjid Indonesia (DMI) se-Jawa Timur mengikuti pelatihan sekaligus praktik tanggap bencana yang digelar Yayasan Demasindo Jatim bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur.152
Kegiatan berlangsung secara lesehan di Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim pada Sabtu 11 Juli 2026.
Ketua Pengurus Wilayah (PW) DMI Jatim, Dr KHM Sudjak MAg, saat membuka pelatihan menegaskan bahwa DMI yang telah berdiri sejak 22 Juni 1972 atau 54 tahun lalu, mengemban sejumlah fungsi pembinaan masjid.
Fungsi tersebut meliputi fungsi ibadah, idaroh (tata kelola), imaroh (memakmurkan masjid), tarbiyah (pendidikan), riayah (pemeliharaan), dan ijtimaiyah (fungsi sosial dan pemberdayaan masyarakat sekitar masjid).
Fungsi riayah atau pemeliharaan dan perawatan masjid itu penting agar masjid tetap suci, bersih, sehat, indah dan tahan terhadap bencana.
Baca Juga:
38 Masjid di Jatim Lolos Seleksi Administrasi Masjid Award 2026Karena itu, kata dia, Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kebencanaan ini penting, mengingat potensi bencana juga ada di Jatim.
Selain bencana, tantangan lain adalah program merangkul anak muda ke masjid, program digitalisasi, dan program pemberdayaan UMKM melalui Halal Center.
Sementara itu, Ketua Departemen Sosial-Kemanusiaan, Lingkungan Hidup, dan Tanggap Bencana PW DMI Jatim, H Lilik Halimy, menambahkan bahwa pelatihan ini bertujuan membekali pengurus DMI se-Jatim dengan materi terkait potensi bencana di Jatim dan cara penanggulangannya.
Harapannya, lanjut dia, para pengurus memahami ikhtiar penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana, sekaligus memperkuat sinergi DMI dengan BPBD di daerah masing-masing.
Baca Juga:
El Nino Masih Mengintai, BNPB Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla di Sejumlah WilayahDalam pelatihan itu, Ketua Tim Pencegahan/Penanggulangan BPBD Jatim Dadang Iswandi MT saat menyampaikan materi tentang potensi bencana menjelaskan potensi bencana pada setiap kabupaten/kota itu berbeda, tapi potensi bencana itu maksimal ada 14 potensi.
Rinciannya antara lain gempa bumi, gunung api/erupsi, bencana asap/kebakaran hutan, banjir, kekeringan, longsor, dan tsunami.
Untuk gempa di Indonesia itu berkisar 10-20 detik, namun gempa terlama itu di Kobe-Jepang pada 1995 yang berkisar 40 detik dan 9,5 skala richter, sehingga jembatan tol pun rusak.
"Yang menarik, 94,9 persen dari masyarakat yang selamat hingga mencapai 15.000 orang selamat itu justru karena tahu cara menyelamatkan diri dan dibantu keluarga/saudara/ teman/tetangga dan hanya 1,7 persen dari regu penolong/BPBD,” katanya.
Artinya, lanjut dia, mengetahui cara penyelamatan diri saat terjadi bencana itu penting, selain bersikap baik kepada orang terdekat (keluarga/saudara/teman/tetangga) agar cepat ada bantuan.
“Kalau gempa, cara penyelamatan adalah merunduk dan berlindung di bawah meja/kursi serta menutupi kepala bagian belakang (paling rawan). Jepang mengajarkan cara bertahan saat terjebak bencana adalah selalu bawa peluit, cokelat (2 batang untuk 72 jam/3 hari), dan sarung tangan,” katanya.
Selain materi, peserta juga diajak praktek pertolongan pertama saat bencana/kecelakaan (pijat jantung) dan merasakan langsung bencana dan dampaknya di Ruang Simulator, Virtual Reality (VR).
Kemudian, Puskodalops BPBD Jatim yang merupakan satu-satunya ruang simulasi bencana (gempa, gunung api, kebakaran, banjir, longsor) yang dimiliki BPBD di Indonesia yang hingga 2025 dikunjungi 12.000 orang/pelajar dari 24 provinsi (45 kabupaten/kota).
Sebelumnya, Yayasan Demasindo Jatim bersama Departemen Pemberdayaan ZISWAF PW DMI Jatim juga mengadakan Workshop "Transformasi ZISWAF: Menuju Kemandirian Ekonomi Ummat" di Kantor BPN Jatim yang diikuti 70 peserta dari BPN, PD DMI Surabaya/Sidoarjo, serta para takmir masjid, pengelola nazhir wakaf, akademisi ekonomi syariah, serta mitra pemberdayaan ekonomi umat.
Dalam workshop dengan narasumber DR. KH. Ahsanul Haq, MPdI (Katib Syuriah PWNU Jatim), DR H. Asep Heri, SH,M (Kepala Kanwil BPN Jatim), dan DR H. Moh. Arwani. M.HI (Wakil ketua BWI Jatim) itu disampaikan pentingnya membangunkan “Wakaf Tertidur” melalui wakaf produktif untuk Kejayaan Peradaban Islam Indonesia.
Selama ini, wakaf masih identik dengan pembangunan masjid, musala, makam, atau sarana ibadah lainnya, tentu fungsi itu penting, namun membatasi wakaf hanya pada fungsi ritual akan mengerdilkan peran besar wakaf dalam sejarah peradaban Islam.
Dalam lintasan sejarah, universitas besar dunia Islam, rumah sakit, perpustakaan, pusat riset, hingga layanan sosial masyarakat berkembang melalui dukungan wakaf produktif sebagai instrumen distribusi kesejahteraan dan penguatan ekonomi umat, bukan sebatas jariyah. (*)