KETIK, SURABAYA – Sebanyak 49 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di RW 02, Kelurahan Sukomanunggal, Surabaya, mendapat pendampingan digitalisasi melalui program “UMKM GO”.
Kegiatan tersebut dilakukan mahasiswa KKN Bela Negara Kelompok 29 UPN “Veteran” Jawa Timur untuk membantu pelaku usaha memperluas jangkauan pasar melalui teknologi.
Pendampingan dilakukan dengan mendata UMKM yang berada di wilayah RW 02.
Mahasiswa kemudian mendatangi langsung titik-titik usaha yang telah terdata untuk melakukan wawancara dengan para pelaku UMKM.
Melalui proses tersebut, mahasiswa menghimpun berbagai informasi penting mengenai usaha, seperti contact person, deskripsi UMKM, menu serta daftar harga produk.
Baca Juga:
Polisi Diminta Usut Kasus Diduga Keracunan MBG, MUI Jatim: Penutupan Dapur Tak CukupPendampingan juga diarahkan pada pengelolaan informasi usaha di platform digital, termasuk Google Maps.
Mahasiswa menjelaskan bahwa keberadaan usaha pada platform digital dapat memudahkan pelanggan menemukan lokasi sekaligus memberikan informasi yang lebih lengkap kepada calon konsumen.
Informasi seperti jam operasional, foto usaha, deskripsi usaha dan harga produk juga dinilai penting untuk diperbarui secara berkala.
Kelengkapan informasi tersebut dapat membantu meningkatkan daya tarik serta kepercayaan konsumen.
Baca Juga:
Langkah Nyata Angkat Kelas UMKM, Plt Bupati Tulungagung Resmikan Gempita di GOR Lembu PetengSalah satu pelaku UMKM, Sulistyana, mengaku terbantu dengan pendampingan tersebut.
Ia mengatakan usahanya sebenarnya sudah terdaftar di Google Maps, tetapi informasi harga belum diperbarui karena tidak mengetahui cara mengubahnya.
“Sebenarnya usaha saya sudah ada di Maps, tapi karena ada perubahan harga saya nggak bisa memperbaruinya karena nggak tahu caranya. Jadi kadang pembeli bingung, kalau datang kesini kok harganya beda. Dengan kedatangan mahasiswa ini, saya jadi tahu cara memperbarui nya. Selain itu, tetangga sekitar juga jadi ikut tertarik untuk mendaftarkan usahanya di google maps,” ungkap Sulistyana.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan digitalisasi UMKM di RW 02 bukan sepenuhnya karena pelaku usaha tidak mengenal teknologi.
Sejumlah UMKM telah memiliki titik lokasi di Google Maps sejak lama, tetapi sebagian informasi di dalamnya belum diperbarui.
Di sisi lain, masih terdapat pelaku UMKM yang belum mendaftarkan usahanya di platform digital.
Pendampingan kemudian dilakukan untuk membantu pelaku usaha memahami pentingnya informasi digital sekaligus cara mengelolanya.
Selain pendampingan digital, program “UMKM GO” menghasilkan denah pemetaan fisik persebaran UMKM di RW 02.
Data yang dihimpun mahasiswa kemudian diolah menjadi pemetaan yang mencakup 49 UMKM.
Denah tersebut diharapkan dapat menjadi panduan bagi warga sekitar maupun masyarakat dari luar wilayah untuk mengenali dan menemukan berbagai potensi usaha mikro yang berada di lingkungan RW 02 dengan informasi yang lebih akurat.(*)